writing

Ini Bukan Judul Terakhir

“Ran, maukah kamu menjadi istriku..” kataku padanya.

Mungkin ini terlalu mengejutkan dirinya. Dari raut wajahnya, aku mengetahui hal itu. Aku pun tak tahu apa yang membuatku begitu tiba-tiba bertanya hal ini padanya. Yang aku tahu, aku tak mau kehilanganmu lagi.

“akan kupikirkan nanti..” jawabmu penuh ragu.

Aku tahu, bagimu berat untuk memutuskan menerima ataupun menolak pertanyaanku ini. Bagimu mungkin semua terasa berbeda. Tapi yang jelas, andai saja kau tahu, apa yang aku rasakan padamu tak pernah berubah.

Bagiku, hidup itu penuh lembaran-lembaran yang berisi cerita tentang perjalanan hidup. Dan bagiku, perjalanan hidup denganmu ini bukan judul terakhir dalam lembaran hidupku. Kau mungkin tempatku menghabiskan sisa umurku, namun bukan berarti ini akan menjadi judul terakhir. Kamu akan selalu menjadi judul pertama bagiku, sejak kecelakaan yang membuatmu menjadi amnesia segala tentang aku.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 14 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Kalau Odol Lagi Jatuh Cintaโ€ฆ

Odol. Itu sebutan namanya. Kami biasa memanggilnya seperti itu. Dia sebenarnya baik, tapi sayang bagiku dia bukan tipe yang setia. Rasanya dia memang selalu mau melayani orang-orang yang membutuhkan dirinya, namun itu yang membuatku merasa dia bukan tipe yang setia. Bagiku, baginya tidak ada yang special di hatinya. Semua diperlakukan sama olehnya. Huh!!

Meski demikian, akupun tak mau membayangkan apa yang terjadi kalau odol lagi jatuh cinta suatu hari nanti. Kalau odol lagi jatuh cinta daaan dia berubah menjadi tipe yang setia. Aaah!! Apa jadinya jika dia hanya mau melayani satu sikat gigi untuk satu orang yang membutuhkan dirinya. *sigh*

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 13 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Senyum Untukmu Yang Lucu

“Lucu” itu yang manggambarkan dirimu sebenarnya saat pertama kali aku melihatmu. Namun, ntah mengapa kala itu aku malah menangis dan seketika orang disekelilingku menjadi panik.

Aku sering melihatmu. Rasanya ingin melemparkan senyum untukmu yang lucu, namun bibir ini begitu beku. Hingga kau berlalu tanpa aku sadari. Kejadian ini selalu berlalu ulang dan selalu tanpa senyum yang terlempar. Meski demikian, kau selalu tersenyum padaku.

Waktu berjalan. Tiba-tiba “Fit, kamu senyum sendiri? Ada apa?” tanya ibu padaku.

Aku menoleh pada ibu dan tersadar, ini kali pertama aku melemparkan senyum untukmu yang lucu sejak kali pertama aku melihatmu. “Lucu” karena dirimu berbeda denganku dan di rumah ini hanya aku saja yang dapat melihat dirimu melayang-layang di setiap tempat sudut rumah tanpa terusik dengan kahadiran kami. Manusia.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 10 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Inilah Aku Tanpamu

“Tapi aku juga mencintainya..” ucapmu malam itu.

Malam itu, aku menangis sedu ketika harus mengetahui kenyataan yang ada. Aku sudah merasakannya, namun tetap saja kejujuranmu itu sangat menyakitkan. Aku memutuskan segalanya. Memutuskan kebersamaan yang terjalin denganmu. Awalnya begitu sesak juga hampa. Namun aku tahu ini yang terbaik.

Jatuh, bangun melupakan segalanya. Hingga aku berdamai dengan lupa karena memang ini tidak bisa dilupakan. Begitu sakit menghujam dada yang aku tak tahu bagaimana mengobatinya.

Waktu berlalu lama. Inilah aku tanpamu, bersama pengganti yang lebih baik darimu dengan buah hati yang menyejukkan mata dan hati. Bahagia. Meski luka itu masih ada, tersimpan dalam, tanpa pernah terlupa sedikitpun apa yang telah kamu lakukan bersama sahabat terbaikku.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 9 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Aku Benci Kamu Hari Ini

Pagi itu kamu datang bergegas menemuiku di ujung koridor. Kamu menanyakan kabarnya padaku bukan kabarku. Padahal aku selalu menantikan itu namun hal itu tak pernah keluar dari mulutmu. Aku benci dan menjadi perih, namun apa dayaku. “Aku benci kamu hari ini” kataku menggema di relung hati.

Ntah sejak kapan aku membiarkan diriku jatuh hati padamu. Meski aku tahu, kamu tidak pernah membiarkan dirimu jatuh hati padaku. Serasa dunia ini begitu kejam padaku.

Hingga tiba saatnya aku mendengar kabar darimu yang memutuskan untuk melamar dan menikahi dirinya. Padahal aku sangat berharap jika kamu adalah pasangan jiwaku. Aku selalu menunggumu namun kamu sudah memilihnya. Aku benci dan menjadi rapuh. “Aku benci kamu hari ini” teriakku dalam hati. Jatuh hati ini sungguh menyiksaku andai kamu tahu itu.

“Aku benci kamu hari ini” menguasai hati dan pikiranku. Hingga aku terkurung dengan tangan terikat di sebuah kamar sempit dengan penuh tulisan “Aku benci kamu hari ini..” di sebuah rumah sakit jiwa ternama.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 8 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Sepucuk Surat (bukan) Dariku

Yang kutahu, aku selalu mengantarkan surat ini untuknya. Sepucuk surat (bukan) dariku. Aku menunggunya untuk membuka kemudian membacanya. Setelah itu baru aku berlalu.

Biasanya ia meremasnya setelah membaca surat yang kuantar ini, meski kemudian ia memungutnya kembali. Kadang aku berlalu dengan penuh tanda tanya, namun cepat kutepis segala tanya yang ada.

Pernah aku mengantarkan sepucuk surat (bukan) dariku ini kepadanya. Ia membuka dan membacanya, rautnya berubah, begitu kesal juga marah sambil meremasnya keras-keras. Aku segera berlalu karena tak mau kalau-kalau nanti aku jadi sasaran marahnya.

Kali lain aku mengantarkannya lagi padanya. Reaksinya tidak seperti yang lalu, hanya hela nafas darinya. Aah rasanya hidupnya begitu berat setelah menerima sepucuk surat (bukan) dariku yang kuantarkan selalu padanya.

Namun, hari ini begitu berbeda. Setelah kuserahkan surat ini padanya, kemudian dibuka dan dibacanya. “YESSSSS!!!” serunya penuh haru biru. Ini kali pertamanya ia menunjukkan ekspresi gembira seperti ini setelah menerima surat yang kuantar untuknya. Dia berlari, tanpa meremas suratnya.

Dan sekilas kulihat tulisan “TOTAL TAGIHAN BARU Rp 0,-” tak tahan, aku ikut tersenyum dan berlalu.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 7 , infonya bisa dilihat di sini

writing

Ada Dia di Matamu

Aku masih ingat waktu saat dirimu mengucapkan janji di depan penghulu dan ayahku. Aku tahu, itu adalah sebuah keputusan terbesarku. Memutuskan menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Memutuskan diriku untuk dipimpin olehmu

Dunia terasa begitu indah, hanya ada kamu dan aku. Menjalani hari-hari penuh makna di dalam pernikahan. Menghabiskan waktu bersama dari waktu ke waktu hanya kita berdua.

Hingga tiba saatnya sosok itu hadir di tengah-tengah kita. Rasanya perhatianmu bukan lagi milikku seorang. Kamu bukan lagi milikku seutuhnya. Sosok itu begitu mengubah segalanya. Mengubah kebersamaan yang telah ada.

Binar matamu tak lagi ada diriku seorang. Karena sejak saat itu selalu ada dia di matamu. Dia, Nadia buah hati pertama kita. Membuat hari-hari kita menjadi lebih indah.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 6 , infonya bisa dilihat di sini