bijakkelolasampah · story · thoughts

Yuk, #simpansampahplastikmu

ecobrick

Sejak awal November 2018, hampir setahun saat itu menjadi nasabah Bank Sampah Kp. Pedurenan, yang terletak di daerah Jatiluhur, Jatiasih. Saya mulai menggiatkan dan mengajak teman-teman untuk #simpansampahplastikmu. Hal ini disebabkan ada beberapa jenis sampah plastik yang tidak diterima oleh Bank Sampah kami.

Kenapa perlu #simpansampahplastikmu, karena hidup tanpa plastik masih terasa sulit bagi kita, namun sampah plastik yang tidak dikelola dengan baikpun sangat membahayakan bagi makhluk lain juga lingkungan kita sendiri. Berikut adalah alasan mengapa kita perlu untuk #simpansampahplastikmu

Continue reading “Yuk, #simpansampahplastikmu”

Advertisements
story

2019..

Assalamu’alaykuuuum.. 🙂

Kangen yaaa, udah lama ga nulis blog, hampir 2 tahun. *tutup muka* sekarang, lebih seringnya nulis status IG di @inggaumnad , semoga IG bisa yaa bikin fitur baru yang menghubungkan status IG ke WP seperti si Path dulu *ngayal dulu dunk yaa* 😀

2 tahun ini ada yang berubah gaaa, ya ada dunk, misal, 4 anak makin besar, yang 2 terbesar udah di pesantren artinya saya punya banyak waktu untuk ke sana dan ke sini :p bukan makin santai sebenernya, karena sekarang lebih mulai banyak untuk tampil ke permukaan. Percaya, semua ada saatnya.

Jadii, buat adek-adek manis yang baru menikah dan dengan menikah jadi ngerasa ga bisa ngapa-ngapain, sabar. Nikmati prosesnya, ubah cara pandangnya, terus positif maju ke depan, karena tiap pernikahan ada tahapannya.

Okeh, segini dulu yaa ngoceh2 di blognya setelah 2 tahun diem 🙂

story

Tahu Rambutan

Biasanya niy yaa, kalau punya mie sama telur, pasti jadinya mentok di martabak mie 😁.

Etapi sekarang sudah ada alternatif lainnya supaya ga itu-itu lagi masakannya *yanasibkangasukamasak* 😅😅 . Dengan tambahan tahu dan telur puyuh, bisa jadi masakan baru di rumah saya 😍😍.

Tahu Rambutan

Bahan:
1 bungkus tahu bandung (isi 10bh)
1 butir telur ayam, kocok pakai garpu
Garam secukupnya
10 butir telur puyuh rebus
1 bungkus mie telur dihancurkan

Cara:
– Hancurkan tahu menggunakan garpu
– Campur tahu dgn telur kocok
– Masukan garam
– Bentuk adonan, masukkan telur puyuh ditengahnya
– Gulingkan bulatan tahu ke mie telur yang dihancurkan
– Goreng sampai kecoklatan dan matang

Selamat mencoba 😋 .
#reseptahurambutan
#tahurambutan
#simplerecipe
#masakansederhana
#camilananak
#doyanbaking

View on Path

story

Jadi ortu lempeng..

Semakin besar anak, sebagai ortu dituntunt banget untuk semakin lempeng 😁😁

Kalau waktu kecil, mereka tantrum gegara minta es krim atau permen, nah seusia belasan ini, ‘tantrum’ nya beda lagi..kalau belajar kecewa nya udah lulus yaa tentunya udah tau ‘tantrum’ yang aman seperti apa..jadi sebagai ortu juga lebih gampang untuk lempeng nya..😉

Si Kakak, tahun ini usia nya 12 tahun, permintaan nya bukan es krim ato permen lagi, tapi punya akun sosmed, mengendarai motor serta punya smartphone sendiri 😁😁

Hal ini dikarenakan teman-teman seusia nya sudah memiliki hal-hal yang tersebut diatas, yang tentu saja mau ga mau si Kakak mau juga dunk yaa seperti teman-temannya. Apalagi kalau misal mereka sudah bertukar akun sosmed ataupun no.telp juga bercerita tentang pengalaman mengendarai motor nya..

“Cumaa akuu, Miii yang belum punyaaa..” curcol nyaa 😊😊

Kalau sudah begini, sebagai ortu kita perlu menanggapinya dengan lempeng alias bijak bukan bejek yaaa 😁😁. Bukan malah merasa anak kita jadi ketinggalan gaya atau jaman lalu bertindak ga mau kalah sehingga menuruti apa yang anak mau.

Kalau kami, punya 2 syarat agar menjadi ortu lempeng

1. Just follow the rules
Biasanya untuk hal-hal yang punya syarat dan ketentuan nya sendiri, kami ajak mereka utk membaca aturan nya bersama-sama, lalu kemudian dikembalikan lagi ke mereka bagaimana menurut mereka tentang aturan tsb jika dihubungkan dengan mereka. Untuk akun sosmed dan berkendara, kedua hal tsb sudah punya aturan nya sendiri. Biasanya akun sosmed mengharuskan pengguna minimal berusia 13th dan 18th untuk anak boleh berkendara alias punya SIM.
Ketika anak sudah mengetahui syarat dan ketentuannya, biasanya terjadi dialog antara kami, apa yang bisa kami lakukan. Untuk kedua hal yang disebutkan diatas, si Kakak memilih untuk menunggu hingga waktu nya tiba 😁

“Yaaa Miii, masih lama banget yaa 13th..”
“Tapi bener yaaa, 13th nanti aku dibuatin..”
“Padahal aku udah bisa banget niy Mii kalau belajar naik motor..”

2. Just make your own rules
Biasanya untuk hal-hal yang tidak memiliki aturan baku, anak-anak kami perlu tahu jika setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda-beda, dan kami sebagai ortu memiliki aturan-aturan tersendiri untuk mereka. Tentu saja hal ini memerlukan dialog yang lebih panjang dibandingkan dengan hal-hal yang sudah memiliki aturan yang berlaku.😇😇
Misal, untuk memiliki hp sendiri, anak-anak bisa memilikinya dengan cara menabung dengan uang mereka sendiri, yang tentu saja tidak hanya dikaitkan dengan menabung saja tetapi juga sejauh mana mereka butuh dengan memiliki hp sendiri. Hal lain yang perlu dipikirkan ketika punya hp sendiri adalah bagaimana mereka juga bisa bertanggungjawab dengan pengisian pulsa hp mereka 🤗🤗
Yang biasanya dialog berhenti di..

“Kenapa begituu siy Miii, teman-temanku dikasih semua sama ortu nya..”😅😅

Tapi semua kan kembali pada syarat awal, setiap keluarga punya aturannya sendiri.

Dan setidaknya dua syarat diatas sangat membantu kami untuk menjadi ortu lempeng saat ini.😇😇

View on Path

story

Aksi Bela Islam III 212..

2 hari sudah berlalu dan gambar ini muncul. Saya salah satu saksi jika memang gambar ini benar adanya.
Dimulai dengan berjalan dari hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih. Rombongan kami berjalan menyusuri jalananan karena bus sudah tidak dapat bergerak. Cek gugel map seberapa jauh perjalanan kami menuju Monas, adalah sekitar 4,5 km jauhnya. Namun tidak menyurutkan langkah kami, para ibu untuk bergabung dalam ABI III ini.

Perjalanan diiringi dengan cuaca yg sejuk, sesekali gerimis mengundang, dan kami tetap bersemangat. Bergabung dengan barisan rombongan lainnya, membuat kami makin bersemangat.

Hingga tiba di Kwitang, perjalanan tidak dapat kami teruskan hingga Monas.

“Untuk ibu2, sampai disini saja, kita tidak bisa terus lagi kedepan, karena sudah tidak bisa masuk lagi, sudah mulai persiapan untuk sholat Ju’mat, biarkan bapak2 saja yang terus maju agar bisa melakukan sholat Ju’mat.” Ujar seorang ibu yg datang dari arah depan memberitahukan rombongan kami.

Dari arah belakang rombongan jama’ah bapak2 masih terus berdatangan, sehingga kami, para ibu memilih untuk mundur dan beristirahat di taman Gunung Agung. Memrediksi jika shaf sholat Jum’at tidak akan sampai di taman ini. Ternyata prediksi kami salah, shaf makin mendekati taman tempat kami beristirahat.

Diiringi hujan yang turun dan sholat Jum’at yang mau dimulai, membuat kami mundur hingga ke halte transjakarta Kwitang dan melakukan sholat dzuhur bersama rombongan kami disana.

Aksi Bela Islam III, adalah aksi yang tak terlupakan sepanjang masa.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini, telah berkumpul karena cinta-Mu, dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu, dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya, dan kekalkanlah cintanya, dan tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup, dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu, dan hidupkan ia dengan ma’rifat-Mu, dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Aamiin… – with Fenda

View on Path

story

Tips Berbicara Pada Anak

Oleh : Innu Virginia

1. Perhatikan anak sebelum memberi instruksi dan panggil menggunakan namanya. — Sebelum mengarahkan anak kita, posisikan tubuh selevel dengan mata anak kita dan beri ia kontak mata-ke-mata untuk mendapatkan perhatiannya. Ajari anak untuk fokus.

2. Berbicara singkat dan sesederhana mungkin dengan instruksi positif. — Gunakan satu kalimat saja. Mulai pembicaraan dengan inti dari perkataan kita. Semakin lama kita mengoceh, semakin besar kemungkinan anak kita tidak mendengarkan.

3. Tawarkan sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh anak. — Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang anak dan yang sulit ia tolak.

4. Bertindak dulu baru berbicara. — Kita menunjukkan bahwa kita serius tentang permintaan kita, kalau tidak anak akan menafsirkan ini sebagai pilihan saja.

5. Beri anak pilihan. — “mau ganti baju atau mau sikat gigi dulu”

6. Bicara sesuai perkembangan anak. — semakin muda anak kita, instruksi kita harus singkat dan sesederhana mungkin.

7. Bicara dengan kata-kata yang baik dan suara halus. — ancaman dan perkataan yang menghakimi cenderung membuat anak bersikap defensif.

8. Pastikan anak tenang. — Sebelum memberikan perintah, pastikan anak tidak emosional. Anak tidak akan mendengarkan kita jika dia sedang emosional.

9. Ulangi perkataan kita . — Balita perlu diberitahu berkali-kali karena mereka masih sering mengalami kesulitan menginternalisasi arahan orangtua. Mereka baru belajar memahami perintah.

10. Gugah emosi anak dalam berkata-kata.

* Biarkan anak berpendapat dan dengarkan dengan seksama

* Berikan hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya

* Sewaktu-waktu, ungkapkan rasa cinta secara verbal

* Berikan pujian setiap kali anak melakukan hal yang diharapkan

Sumber : ig @hsmuslimnusantara

story

4 Macam Tarbiyah untuk Anak..

pesan20tarbiyah20anak

Ceritanya lagi mengais-mengais resume kajian POSKU yang harus diserahkan ketika pengambilan rapot Sabtu nanti, lalu ada sebuah resume yang sayang kalau dilewatkan begitu saja, jadi sengaja ditulis lagi disini :D. Sebenarnya ini lagi berasa diingatkan lagi, untuk kembali fokus dalam mendidik anak-anak.

Kadang kita sebagai orangtua suka bingung mau memulai pendidikan anak dari mana, semua rasanya penting untuk diajarkan pada anak *ngaca* 😀 . Apalagi dengan berita yang terjadi akhir-akhir huhuhuhu, sebagai orangtua saya tentu khawatir dengan anak-anak saya, ntah itu kekhawatiran anak-anak yang menjadi korban maupun kekhawatiran anak-anak yang menjadi pelaku, semuanya bercampur menjadi satu. Continue reading “4 Macam Tarbiyah untuk Anak..”