Jadi ortu lempeng..

Semakin besar anak, sebagai ortu dituntunt banget untuk semakin lempeng 😁😁

Kalau waktu kecil, mereka tantrum gegara minta es krim atau permen, nah seusia belasan ini, ‘tantrum’ nya beda lagi..kalau belajar kecewa nya udah lulus yaa tentunya udah tau ‘tantrum’ yang aman seperti apa..jadi sebagai ortu juga lebih gampang untuk lempeng nya..😉

Si Kakak, tahun ini usia nya 12 tahun, permintaan nya bukan es krim ato permen lagi, tapi punya akun sosmed, mengendarai motor serta punya smartphone sendiri 😁😁

Hal ini dikarenakan teman-teman seusia nya sudah memiliki hal-hal yang tersebut diatas, yang tentu saja mau ga mau si Kakak mau juga dunk yaa seperti teman-temannya. Apalagi kalau misal mereka sudah bertukar akun sosmed ataupun no.telp juga bercerita tentang pengalaman mengendarai motor nya..

“Cumaa akuu, Miii yang belum punyaaa..” curcol nyaa 😊😊

Kalau sudah begini, sebagai ortu kita perlu menanggapinya dengan lempeng alias bijak bukan bejek yaaa 😁😁. Bukan malah merasa anak kita jadi ketinggalan gaya atau jaman lalu bertindak ga mau kalah sehingga menuruti apa yang anak mau.

Kalau kami, punya 2 syarat agar menjadi ortu lempeng

1. Just follow the rules
Biasanya untuk hal-hal yang punya syarat dan ketentuan nya sendiri, kami ajak mereka utk membaca aturan nya bersama-sama, lalu kemudian dikembalikan lagi ke mereka bagaimana menurut mereka tentang aturan tsb jika dihubungkan dengan mereka. Untuk akun sosmed dan berkendara, kedua hal tsb sudah punya aturan nya sendiri. Biasanya akun sosmed mengharuskan pengguna minimal berusia 13th dan 18th untuk anak boleh berkendara alias punya SIM.
Ketika anak sudah mengetahui syarat dan ketentuannya, biasanya terjadi dialog antara kami, apa yang bisa kami lakukan. Untuk kedua hal yang disebutkan diatas, si Kakak memilih untuk menunggu hingga waktu nya tiba 😁

“Yaaa Miii, masih lama banget yaa 13th..”
“Tapi bener yaaa, 13th nanti aku dibuatin..”
“Padahal aku udah bisa banget niy Mii kalau belajar naik motor..”

2. Just make your own rules
Biasanya untuk hal-hal yang tidak memiliki aturan baku, anak-anak kami perlu tahu jika setiap keluarga memiliki aturan yang berbeda-beda, dan kami sebagai ortu memiliki aturan-aturan tersendiri untuk mereka. Tentu saja hal ini memerlukan dialog yang lebih panjang dibandingkan dengan hal-hal yang sudah memiliki aturan yang berlaku.😇😇
Misal, untuk memiliki hp sendiri, anak-anak bisa memilikinya dengan cara menabung dengan uang mereka sendiri, yang tentu saja tidak hanya dikaitkan dengan menabung saja tetapi juga sejauh mana mereka butuh dengan memiliki hp sendiri. Hal lain yang perlu dipikirkan ketika punya hp sendiri adalah bagaimana mereka juga bisa bertanggungjawab dengan pengisian pulsa hp mereka 🤗🤗
Yang biasanya dialog berhenti di..

“Kenapa begituu siy Miii, teman-temanku dikasih semua sama ortu nya..”😅😅

Tapi semua kan kembali pada syarat awal, setiap keluarga punya aturannya sendiri.

Dan setidaknya dua syarat diatas sangat membantu kami untuk menjadi ortu lempeng saat ini.😇😇

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s