Kurikulum Pendidikan Anak 7 – 9 tahun

pendidikan-anak-7-9-tahunRepost Blog dari https://ourlittlenotes.wordpress.com

Setelah tulisan sebelumnya membahas tentang kurikulum pendidikan anak usia 1-3 tahun, lalu dilanjut dengan kurikulum pendidikan anak usia 4-6 tahun, berikut, kita akan membahas tentang kurikulum pendidikan anak usia 7-9 tahun.

Resume “Kurikulum Pendidikan Anak Usia 7 – 9 tahun” (Bagian 3)
Kajian Bulanan HSMN Depok
Narasumber: Ust. Herfi Ghulam Faizi
Tanggal: 15 Mei 2016

Bismillaahi rohmaani rohiim..

Apakah visi pendidikan anak dalam keluarga Muslim?

Visi pendidikan anak dalam keluarga Muslim bukan sekadar menjadikan anak cerdas, atau menguasai keahlian tertentu atau bakatnya, atau bukan pula memiliki profesi yang baik. Visi pendidikan keluarga Muslim terdapat di al Quran surat at Tahrim ayat 6 yaitu untuk menjaga anak-anak kita dari api neraka! Anak yang bahagia dan sukses bukan hanya di dunia, namun juga kelak di akhirat.

Dalam ayat berikutnya di surat yang sama, Allah mengingatkan bahwa pendidikan anak harus berorientasi kepada akhirat, jika kita mengarahkan pendidikan anak hanya untuk dunia, maka kita sama halnya seperti orang-orang kafir.

Kemudian di ayat 8 di surat yang sama, Allah memperingatkan kita untuk memperbanyak taubat. Taubat berbeda halnya dengan istighfar, taubat dilakukan untuk kesalahan yang besar sementara istighfar ialah untuk kesalahan yang kecil.

Setelah Allah memberikan visi pendidikan keluarga Muslim di ayat 6, Allah memperingatkan kita untuk memperbanyak taubat. Mengapa demikian? Ini berarti bahwa kesalahan dalam pendidikan anak merupakan kesalahan yang besar, yang kita perlu bertaubat padanya, bukan sekadar istighfar. Kesalahan pendidikan anak bukan hanya akan menyengsarakan anak di dunia namun juga di akhirat.

Oleh karena itu, kita perlu belajar dari Quran, Sunnah, Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam dan para sahabat, generasi terbaik yang paling utama, mengenai pendidikan anak. Bahkan Allah telah memerintahkan generasi-generasi nabi Musa ‘alayhi salaam agar belajar kepada generasi terbaik itu di dalam Taurot, begitu pula Allah memerintahkan generasi nabi Isa ‘alayhi salaam agar belajar kepada generasi para sahabat di dalam Injil. Padahal, ketika Taurot dan Injil diturunkan kepada kaumnya nabi Musa dan nabi Isa, generasi Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam ini belum hadir. Jika umat-umat terdahulu saja belajar kepada generasi para sahabat, bukan kah kita lebih pantas untuk belajar dari Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam dan generasi para sahabat itu?

Pada bagian sebelumnya telah di bahas mengenai pendidikan anak pada fase 1-3 tahun dan 4-6 tahun. Kali ini, pembahasan akan meliputi pendidikan anak pada fase 7-9 tahun.

Sekilas, mari kita kilas sedikit mengenai pendidikan anak pada fase 4-6 tahun.

Pada fase ini, anak ialah peniru yang ulung, maka alangkah baik jika kita menanamkan kebaikan-kebaikan dalam diri anak. Bagaimana caranya? Yaitu, dengan membangun interaksi al Quran dalam diri anak, karena al Quran ialah sumber dari segala kebaikan, segala kebaikan terangkum di dalamnya. Oleh karena itu, pada fase ini, bangun cinta anak kepada al Quran terlebih dahulu, sebelum anak mengenal nilai-nilai di dalamnya atau mengajarkan hafalan al Quran kepadanya. Dengan membangun cinta terlebih dahulu, anak akan lebih mudah menerima nilai-nilai yang ada di dalamnya. Dengan membangun cinta terlebih dahulu, anak akan lebih mudah menghafal al Quran.

Bagaimana cara membangun kecintaan anak terhadap al Quran?

Pertama, ceritakan kisah interaksi para sahabat dan salafush sholih dalam berinteraksi dengan al Quran, kisah bagaimana Allah memuliakan orang-orang yang dekat dengan al Quran, atau kisah mengenai 80 orang pemuda yang belajar al Quran*, atau kisah mengenai Imam Syafi’i, kisah-kisah yang menggugah tentang penghafal al Quran untuk menggugah semangat mereka.

Kedua, kaitkan segala pertanyaan anak dengan al Quran, apapun pertanyaan mereka sesungguhnya ada di al Quran. Dahulu, para sahabat tumbuh begitu dekat dengan al Quran karena Allah mendidik mereka untuk menyelesaikan segala masalah dengan al Quran. Ketika ada suatu masalah, mereka selalu menunggu wahyu dari Allah untuk memberikan jawabannya dari al Quran. Dengan pola yang sama, maka diharapkan anak dapat bergantung pada dan dekat dengan al Quran. Jika ada suatu permasalahan anak mengingat pada al Quran, itu ialah pertanda baik bahwa karakter Quran tumbuh dalam dirinya.

III. Kurikulum Pendidikan Anak usia 7 – 9 tahun

Kebutuhan Dasar atau Pokok yang Dibutuhkan Anak

Pada usia ini, secara fitroh anak sudah menunjukkan kemandirian dirinya, melakukan suatu tanggung jawab, dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Anak sudah mampu untuk mengerjakan suatu tugas yang bersifat spesifik (atau dengan instruksi jelas) yang diamanahkan kepadanya. Anak pun mulai memperhatikan urusan rumah tangga, bagaimana orangtua mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan ikut terlibat di dalamnya.

Selain itu, anak sudah memperhatikan kehidupan sosialnya. Ketika ia misalnya di-bully atau dikucilkan oleh teman-teman bermainnya, ia akan merasakan adanya dampak sosial, ia tidak bisa lagi bersikap cueksebagaimana pada fase sebelumnya. Hal ini disebabkan munculnya keinginan untuk berinteraksi sosial dalam diri anak. Ia juga sudah mampu memilih teman yang sesuai dengan dirinya. Itu lah sebabnya mengapa kita perlu membangun “selera baik” pada anak di fase sebelumnya. Jika seleranya sudah terbangun dengan baik, kita tidak perlu kuatir dengan siapa ia berteman. Pada usia ini, anak pun sudah bisa berargumentasi atas pilihan-pilihannya.

Dan yang paling penting, anak pada usia ini, secara fitroh, sudah muncul dahaga atas spritualitas (kecuali jika pada fase sebelumnya tidak ditanamkan soal spiritualitas, maka fitroh ini bisa saja tidak muncul). Itulah mengapa pada usia ini Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam memerintahkan para orangtua untuk memerintahkan anak sholat, termasuk juga ibadah lainnya (sholat dijadikan landasan mengapa anak juga harus diperintahkan melaksanakan ibadah lainnya, karena sholat ialah amalan utama yang akan dihisab kelak). Jika pada usia ini tidak tampak tanda religiulitas dalam diri anak, maka bisa jadi kita telah merusak fitroh anak di fase fase sebelumnya.

Jika kita perhatikan sejak pembahasan pembahasan sebelumnya, sesungguhnya Allah telah mengatur fitroh anak pada fase usianya masing-masing. Sehingga, tugas utama orangtua sesungguhnya ialah memupuk dan menyiram fitroh fitroh tersebut. Orangtua berperan untuk menciptkan kondisi agar fitroh-fitroh tersebut tumbuh subur dalam diri anak.

Pada fase usia 7-9 tahun ini, tugas pokok orangtua ialah memuaskan dahaga spiritualitas anak, dan mengaitkannya dengan perihal ghoib. Pertumbuhan spiritualitas anak tumbuh dengan dahsyat. Anak akan mudah mengikuti orangtua dalam perkara ibadah. Jika orangtua sholat, anak pun akan sholat. Arahkan anak untuk melaksanakan sholat dan ibadah-badah lainnya, seperti do’a, dzikir, silaturrohim, dsb.

Selain dahaga spiritualitas, pada usia ini timbul kecenderungan merenung dalam diri anak. Jika dihadapkan pada suatu permasalahan, anak akan cenderung menarik diri, kemudian memikirkan permasalahan tersebut. Salah satu hikmahnya, mengapa Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam memerintahkan anak untuk sholat pada usia ini, karena sholat membutuhkan perenungan dan penghayatan.

Untuk mengasah kemampuan perenungan anak, ajak anak sesering mungkin untuk mengamati alam. Ajak ia untuk melihat langit biru siapa yang menciptakan, melihat daun siapa yang mewarnainya, melihat kasih sayang burung terhadap anak-anaknya dsb. Anak usia ini senang memperoleh informasi melalui orangtuanya, bukan hanya tentang alam, bahkan termasuk kisah-kisah mukjizat para rosul dan nabi. Ketika diajak untuk mengamati sesuatu, ia tidak akan menganggap orangtuanya “lebay”, namun ia akan tertarik untuk turut mengamati dan berpikir. Berbeda dengan anak pada usia selanjutnya, jika diajak untuk mengamati sesuatu, sangat mungkin ia akan berpikir orangtuanya berlebihan. Sedapat mungkin, jauhkan atau kurangi interaksi anak dari gadget, televisi, games, dsb. Karena hal-hal demikian dapat mematikan kecenderungan anak untuk berpikir dan merenung.

Contoh dialog perenungan antara orangtua dengan anak:

Orangtua mengajak anak melihat pohon jati, lalu berkata, “Lihat nak, ini pohon jati. Pohon ini banyak berpuasa. Ketika musim kemarau, ia gugurkan daunnya, untuk membuat lingkaran baru pada batangnya. Setiap tahun bertambah lah satu lingkaran, semakin lama semakin banyak sehingga kualitas kayunya sangat tinggi. Begini lah ibarat orang yang berpuasa. Jika kamu ingin berkualitas tinggi, nak, perbanyak lah puasa…”

Orangtua mengajak anak melihat daun yang berguguran, lalu berkata, ” Nak, tahu tidak, jumlah daun yang berguguran ini ada berapa?”. Anak kemungkinan besar akan menjawab, “Tidak tahu…”. Maka orangtua bisa mengatakan, “Tapi, Allah tahu, nak. Allah tahu setiap daun yang berguguran. Karena tidak ada daun yang jatuh, kecuali sudah tertulis di Lauh Mahfudz…”.

Selain mengasah sifat merenung dalam diri anak seperti di atas, ceritakan kepada anak kisah para sahabat, dan ajarkan pula tauhid, fiqih, dsb, karena sebentar lagi ia akan memasuki usia baligh. Ketika ia berusia baligh, akan jatuh taklif sebagaimana orang dewasa. Ajarkan anak pula mengenai fiqih thoharoh. Dengan fiqih thoharoh, orangtua sesungguhnya tidak perlu mengajarkan anak tarbiyah jinsiyah (pendidikan seksual). Pendidikan seksualitas sesungguhnya terdapat di fiqih thoharoh dan fiqih nikah. Menjelang usia baligh, ajarkan anak fiqih thoharoh. Kemudian ajarkan anak fiqih menikah ketika anak usia remaja (kira-kira menengah atas). Pendidikan seksualitas tidak perlu berdiri sendiri, namun ia ada dalam fiqih thoharoh. Ketika pendidikan seksualitas berada dalam fiqih, anak teringat akan hukum-hukum dan aturan dari Allah, bukan tentang organ-organ seksual semata.

Untuk menumbuh suburkan spiritualitas dalam diri anak, ada beberapa kaidah yang patut diperhatikan:

1. Kaidah Cinta

Motivasi anak untuk mempelajari agamanya dengan cinta. Hadapi pembangkangan anak dengan lemah lembut. Ceritakan karunia dan rahmat Allah, kenikmatan syurga, serta kurangi pembicaraan mengenai neraka agar anak tumbuh dengan kecintaan kepada Allah, bukan karena takutnya. Allah sendiri memerintahkan Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Maka tanamkan kecintaan kepada Allah, ibadah, Quran dsb terlebih dahulu.

2. Kaidah Pujian

Puji dan banggakan anak atas kebaikannya di hadapan orang lain yang ia cintai dan dirinya sendiri. Bahkan untuk kebaikan sekecil apapun itu, seperti hanya sekadar membaca doa setelah bangun tidur. Karena Allah sendiri punmemuji muslim yang melakukan kebaikan sekecil apapun itu, seperti halnya tersenyum ketika berjumpa dengan muslim lainnya. Perbanyak pujian untuk memotivasi anak, karena kurangnya pujian bisa jadi membuat anak kurang termotivasi untuk melakukan amalan. Tidak perlu kuatir dengan pujian yang dapat mendatangkan riya, karena anak belum mencapai taklif.

3. Kaidah Kesan Baik

Hadirkan kesan baik dalam diri anak tentang ibadah-ibadah dan perintah-perintah agama. Permudah, dan jangan dipersulit. Misalnya, ketika mengajak anak untuk berpuasa, dan ketika jam 10 anak sudah tidak kuat berpuasa, maka biarkan ia berbuka, jangan dipaksakan. Sebagaimana dalam hadits, Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam memberikan mainan untuk memalingkan anak-anak dari rasa lapar ketika berpuasa, namun ketika anak-anak sudah tidak mampu maka izinkan lah berbuka.

4. Kaidah Hadiah

Berikan hadiah kepada anak atas pencapaiannya, seperti ketika berhasil menghafal surat tertentu, sholat, dsb. Hadiah merupakan pengokohan atau untuk menyuburkan kebaikan yang anak sudah lakukan. Selanjutnya, kita dapat menghentikan pemberian hadiah yaitu ketika anak sudah kokoh dengan ibadahnya tanpa perlu diberi hadiah lagi. Tidak perlu kuatir anak akan gila hadiah, karena sesungguhnya Allah telah mengatur kecenderungan dalam diri manusia untuk bosan dengan suatu pola yang sama terus menerus. Pun anak, akan mengalami kebosanan dengan hadiah nantinya.

5. Kaidah Menekan

Menekan atau “pushing”, merupakan kaidah yang sebenarnya tidak dianjurkan untuk fase ini. Misalkan, anak diajak ke masjid namun sedang asyik bermain dengan temannya, lalu kita menekan dengan menakut-nakutinya dengan azab neraka. Alih-alih demikian, biarkan anak bermain, kemudian sepulangnya kita dari masjid kita bisa mengajak anak untuk sholat, dengan menemaninya berwudhu, atau dengan cara lainnya.

6. Kaidah Keteladanan

Pendidikan anak seperti halnya cermin, anak akan mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya. Perhatikan pula tempat anak bersekolah. Pilih sekolah karena guru dan orang-orang sekitarnya, bukan hanya karena fasilitasnya, karena anak akan berinteraksi lebih banyak dengan guru dan bukan dengan fasilitasnya. Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya ‘Ulummiddin, mengatakan bahwa guru seperti ranting, jika bengkok maka bayangannya juga bengkok, dan jika lurus maka bayangannya juga lurus. Guru memperngaruhi anak kita. Dalam memilih sekolah perlu diperhatikan pula, bagaimana orang-orang di sekitar mereka yang lainnya termasuk satpam, cleaner service, dsb.

Bahaya atau Ancaman bagi Anak

Yang perlu diperhatikan pada fase usia ini ialah hukuman bagi anak. Hindarkan sedapat mungkin, hukuman dengan memukul karena hal ini dapat merusak fitroh anak kita. Jika hukuman sangat diperlukan, maka pilih lah hukuman yang bersifat non fisik, seperti mengabaikan atau cuek terhadap anak. Mengabaikan merupakan hukuman yang dicontohkan Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam kepada Ka’ab bin Malik karena ia tidak mengikuti Perang Tabuk, dimana Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam mendiamkan beliau selama 40 hari. Alternatif lainnya, ialah dengan membatalkan atau mengurangi hal-hal yang disukainya (misalnya membatalkan jalan-jalan yang ia inginkan) atau dengan meminta anak untuk duduk atau berdiri menghadap ke tembok atau di dalam ruangan tertentu selama beberapa waktu sehingga membuat anak menjadi jenuh namun tidak menakutkan baginya.

Jika hukuman-hukuman tersebut ternyata tidak efektif untuk memperbaiki kesalahan anak, maka para ulama membolehkan hukuman pukulan bagi anak. Pun, orangtua harus mengetahui bagaimana cara memukul yang baik atau fiqih memukul. Tunjukkan cinta kepada anak, jangan pukul anak dalam kondisi marah. Ketahui bagian-bagian mana saja yang boleh dipukul (di bagian yang berkulit tebal, bukan di muka, bukan di bagian yang terasa sakit). Jangan pukul anak di depan orang yang dicintainya atau di depan anak lain yang menjadi saingannya, lakukan ketika ia sendiri. Ingat, selalu tunjukkan cinta kepada anak, dan jangan lakukan dalam keadaan spontan.

Selain hukuman, hindari permainan-permainan maya dari gadget, dsb. Karena ia akan melemahkan akal anak, dan anak hidup di dunianya sendiri.

Nilai-nilai yang Perlu Ditanamkan pada Anak

Mengenai penanaman nilai dalam diri anak, perhatikan analogi tersebut: Buat garis kecil pada balon, lalu tiup balon tersebut. Bagaimana kondisi garis tadi? Garis tadi tentunya akan mengembang seiring dengan berkembangnya balon. Begitu pula kondisi nilai yang ditanamkan pada anak usia ini. Sekecil apapun nilai itu, nilai itu akan berkembang terus seiring dengan usia anak.

Dalam pendidikan, jika yang kita tanamkan ia pokok-pokok atau “biang-biang”nya ilmu terlebih dahulu, maka ketika anak tumbuh, ia akan lebih mudah mempelajari cabang-cabangnya kemudian. Itulah mengapa ada urutan dalam menuntut ilmu. Pada anak-anak usia ini ajarkan matan-matan ilmu syar’i terlebih dahulu (misalnya matan Abu Syuja), nanti ketika anak tumbuh ia akan mampu menguasai cabang ilmunya. Begitu lah para ulama dahulu menuntut ilmu.

Mari belajar dari Nu’man bin Basyir.

Nu’man bin Basyir ialah periwayat hadits nomor enam dalam hadits arba’in yaitu hadits mengenai syubhat, sebagai berikut: “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya…” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599).

Ketika Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam wafat, usia Nu’man bin Basyir baru sembilan tahun. Perhatikan, bahwa ia telah meriwayatkan suatu hadits yang sesungguhnya bernilai besar padahal usianya masih belia. Mengapa hadits tersebut bernilai besar? Karena Imam Abu Dawud, menggolongkan hadits tersebut di atas sebagai salah satu dari empat hadits pokok yang perlu dipelajari oleh seorang muslim dari ratusan ribu hadits yang beliau hafal. Empat hadits pokok tersebut ialah hadits mengenai niat, mengenai kecakapan islam, mengenai kesempurnaan iman, dan mengenai syubhat (yaitu yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir di atas). Dengan empat hadits tersebut, jika seorang muslim dapat memahaminya dengan baik maka ia sudah dapat memahami Islam secara utuh, karena keempat hadits tadi sudah mencakup aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak (pokok-pokok Islam). Masing-masing hadits bernilai seperempat agama. Maka, dapat dikatakan bahwa Nu’man bin Basyir sudah meriwayatkan perkara yang bernilai seperempat agama di usia yang sangat belia! Ma sya’ Allah.. Ketika dewasa, Nu’man bin Basyir menjadi seorang ulama besar di Homs, Syam.

Perhatikan bahwa Nu’man bin basyir diajarkan perkara yang pokok, yaitu mengenai syubhat, dari Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam. Hadits ini kemudian yang menjadi rujukan banyak cabang ilmu. Maka, inilah yang menjadi panduan mengapa diperlukan urutan dalam belajar. Di usia tersebut, ajarkan anak-anak perkara-perkara pokok, yang kemudian perkara itu nantinya akan berkembang seiring dengan bertambah usianya. Jangan gegabah dalam memananamkan ilmu pada anak. Jangan pula serta merta ketika ada ilmu, langsung diajarkan kepada anak. Sekali lagi, perhatikan urutan belajar, mulai dari yang pokok.

Selain Nu’man bin Basyir, ada Hasan bin Ali. Ketika Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam wafat, usianya baru tujuh tahun. Namun, Hasan bin Ali meriwayatkan suatu hadits yang dipakai oleh hampir seluruh muslim di duniapada saat ini, yaitu bacaan sholat witir. Itu artinya, Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam telah mengajarkan bacan sholat witir kepada Hasan bin Ali sebelum ia berusia tujuh tahun. Bayangkan di usia yang begitu muda, Hasan bin Ali telah diajarkan bacaan sholat yang sunnah (sunnah muakkad). Ma sya’ Allah.. Itu artinya Rosulullaah sholallaahu ‘alayhi wassalaam telah mengajarkan yang pokok terlebih dahulu di usia Hasan yang begitu belia. Lagi-lagi ini pula yang menjadi panduan mengapa perkara yang pokok itu perlu diajarkan terlebih dahulu sebelum yang lain.

***

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Aamiin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s