“Perintahkan Anak-Anak Kalian untuk Shalat!”

Kajian Rabu Malam Parenting Nabawiyah
Ustadz Budi Ashari, Lc.
Masjid Darussalam GTA, 25 Maret 2015

Pembahasan Bab V buku Tarbiyatul Athfal fi Hadist Syarif, Dr. Khalid Ahmad Syantut.
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat!”

Abu Dawud dalam Sunan-nya meriwayatkan di bab “Kapan seorang anak diperintahkan untuk shalat?”
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan anak kecil untuk shalat ketika sudah berusia 7 tahun. Jika telah berusia 10 tahun, maka pukullah ia jika meninggalkan shalat.”
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat di saat usia mereka 7 tahun. Dan pukullah jika mereka meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Anak diperintahkan untuk shalat ketika sudah bisa membedakan antara kanan dan kiri.”
Imam Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ajarkan anak kalian untuk shalat di usia 7 dan pukul mereka di usia 10.”

Pembahasan perintah anak untuk shalat bukanlah hal yang sederhana. Meskipun perintahnya untuk shalat, namun ia mengandung banyak pelajaran.

Dari hadist di atas, kita mengetahui bahwa generasi sahabat terbiasa bertanya dengan pertanyaan yang berkualitas, yaitu tentang masalah agama, bukan sekadar pertanyaan masalah dunia.
Kualitas pertanyaan suatu masyarakat menunjukkan apa yang menjadi perhatian besar masyarakat tersebut. Generasi sahabat menyadari betul bahwa shalat adalah perhatian utama.
Generasi sahabat cenderung bertanya dengan arah ke atas (meminta tambahan dalam ibadah), sangat berbeda dengan generasi kita saat ini yang bertanya dengan arah ke bawah (mencari dan meminta keringanan dalam beribadah).

Keluarga muslim harusnya memberikan porsi besar dalam pertanyaan-pertanyaan mengenai pembinaan ruh. Tidak melulu berkutat di pembinaan akal. Ruh yang pertama, kemudian akal, selanjutnya fisik.

Ada keluarga muslim yang rela mengantri sejak setahun sebelumnya, demi mendapatkan tiket konser dengan harga yang mahal. Apakah mereka akan melakukan hal yang sama demi mendapatkan pembinaan ruh dalam keluarganya?

Keistimewaan keluarga muslim terletak saat mereka memiliki keterikatan dan hubungan baik dengan Allah Ta’ala.

Ibnul Qayyim berkata, “Orangtua seringkali menganggap sedang menyayangi anak-anaknya dengan cara memfasilitasi syahwat anak-anak mereka. Padahal, itulah yang menghancurkan masa depan mereka.”

Kekhawatiran kita akan rezeki membuat kita melakukan berbagai hal, bahkan hal-hal yang diharamkan.
Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Saya tahu rezeki saya tidak akan diambil orang. Oleh karena itu, tenanglah hati saya.”
Keyakinan seperti Imam Hasan Al-Bashri inilah yang susah dibangun pada hari ini.

Perintah untuk shalat harus menggunakan kalimat perintah, misal: “Shalat, Nak. Sudah adzan.” atau “Ke masjid, Nak. Sudah adzan.”

Jika di usia 7 tahun mereka disuruh shalat, sedangkan usia baligh rata-rata adalah 15 tahun, maka kira-kira selama 8 tahun dilakukan pelajaran terus menerus. Harapannya, ketika anak sudah ada di usia baligh, shalatnya sudah mandiri tanpa perlu disuruh lagi, dan sesuai dengan fiqih shalat, bahkan hingga mereka khusyu dalam shalatnya.
Waktu 8 tahun itu waktu yang lama untuk sebuah kurikulum! Apakah ada kurikulum dengan intensitas pelajaran sebanyak 5 kali sehari selama 8 tahun? Untuk belajar bahasa pun, tidak perlu waktu yang selama itu.

Inilah pelajaran mahalnya. Jika orangtua telah berhasil mendidik anak-anaknya untuk shalat, maka pendidikan selanjutnya akan lebih mudah. In syaa Allah. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk terus bersabar saat memerintahkan anak untuk shalat.

Jika ada seorang anak yang sampai meninggalkan shalat, maka orangtualah yang bertanggung jawab! Hal ini karena perintah Nabi ini ditujukan untuk orangtua.

Untuk anak usia di bawah 7 tahun, Dr. Khalid menyebutnya ‘pengondisian’, bukan perintah. Bersabarlah jika anak-anak masih bercanda dalam shalatnya saat usia mereka masih di bawah 7 tahun.

Shalat adalah tolok ukur dunia dan akhirat. Amalan pertama yang dihisab di akhirat adalah shalat. Jika shalatnya baik, amalan yang lainnya pun akan baik.
Di dunia pun, shalat menjadi tolok ukur dalam aktivitas yang lain. Shalat yang baik berdampak pada baiknya aktivitas kehidupan yang lain. Saat shalat, kita diwajibkan untuk tuma’ninah (tenang). Tuma’ninah ini berpengaruh dengan tenangnya hati, sikap dalam menghadapi masalah, interaksi dengan orangtua, teman, gurunya, dsb.

Usia 5-6 tahun adalah usia ‘meniru’. Oleh karena itu, orangtualah yang harus mencontohkan shalat dengan baik. Berjamaah, tepat waktu, di masjid.

Kita mudah sekali panik pada hal-hal yang seharusnya kita tidak perlu panik. Melihat anak tetangga sudah jago dalam pelajaran Matematika, IPA, dsb, kita panik karena melihat anak kita belum bisa.
Pahami betul urutan ilmu dan urutan dalam mendidik! Mana yang didahulukan, mana yang bisa nanti. Kondisi hari ini telah membuktikan gagalnya urutan ilmu yang digunakan oleh masyarakat hari ini.

Pukulan adalah hukuman fisik yang terberat (maksimal). Mengapa di usia 10 tahun (padahal belum baligh), anak perlu dipukul jika meninggalkan shalat? Ini karena pentingnya shalat bagi seorang muslim.

*resume by Abu Umar Syathir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s