[42 of 52] Menjadi Ibu yang Lebih Sabar..

pict.take from here

Menjadi ibu yang lebih sabar bukan berarti tidak pernah marah sama sekali. Masalahnya bukan ada di ‘boleh marah atau tidak..’ tapi apa yang perlu dilakukan setelah kita marah. — Maharani Ardi Putri Msi. Psi.

Jadi, judul di atas adalah judul diskusi di #MDLunch Kamis, 29 Januari 2015. Waktu @mommiesdaily woro-woro di twitter tentang acara #MDLunch 1 minggu sebelumnya, koq yaaa pas banget, pas banget dengan kondisi saya saat itu tentang menjadi diam atau ‘silet’ , lalu pas tahu #MDLunch goes to Bekasi tambah senang lagii, it like dream come true 😀 . Langsung capcus ke forum dan daftar via email. Kenal MD selama 5 tahun, baru kali ini bisa ikutan acara offline nya, biasanya cuma ikutan acara online nya terutama #MDQuiz yang beberapa kali memenangkannya, salah satunya adalah kado untuk suami😀

#MDLunch diadakan di DeLekker Café Bekasi Square. Acara dipandu oleh mba Lita @nenglita sebagai moderator, dan seorang psikolog yang setia mendengarkan curcolan siang para ibu mba Maharani Ardi Putri Msi. Psi😀 sebagai narasumber.

Bagi saya, bertemu para ibu bertukar cerita tentang apa yang kita alami adalah cara kita untuk selalu bersyukur,

“bersyukur gw ga sendirian…”

“bersyukur gw ga ngalamin daah yang kaya gitu..”

“bersyukur bisa dapet ilmunya, kali aja ntar kejadian di gw juga..”

Daaan bersyukur, bersyukur lainnya😀

Tiap ibu kadang pernah ‘kelepasan’, seperti marah, mukul, nyubit, njewer, atau lainnya. Hal ini terjadi ketika ibu sedang banyak beban, letih, lelah atau ada masalah lainnya. Selain hal tersebut, yang membuat kita jadi marah alias ga sabar adalah ketika apa yang kita mau, anak ga mau, apa yang anak mau, kita ga mau, lengkap sudah ga nyambungnyaaa😀 .

Kalau sudah begini apa siy yang perlu ibu lakukan agar menjadi lebih sabar? Ada dua pilihan yang ada..

  1. Tetap berpegang pada idealism ibu
  2. Berdamai dengan keadaan

Dari dua pilihan di atas, ibu perlu tahu masing-masing konsekuensi dari keputusan yang diambil. Untuk pilihan pertama, iyaa siik senang kalau semua berjalan pada idealism ibu, apapun yang terjadi semua ‘nurut’ sama ibu, konsekuensinya ibu perlu punya usaha yang lebih agar semua bisa berjalan pada mestinya. Untuk pilihan kedua, okeee berdamai sama keadaan yang ada, konsekuensinya ibu perlu untuk menurunkan sedikit bahkan lebih banyak idealism yang ibu punya. Tentu saja dari dua pilihan tsb ada kelebihan dan kekurangan, tapi sebagai ibu yang mau menjadi lebih sabar kita perlu tahu untuk mengukur seberapa banyak stok sabar yang kita punya.

Kalaaau sayaaaa, sudah pernah berada dalam dua pilihan di atas😀 . Contohnya, sesuai idealism saya, kalau anak makan, jangan berantakan, males banget bersihin sisa makanan yang akan berantakan kalau mereka dibiarkan makan sendiri, konsekuensinyaaa saya perlu banget usaha untuk nyuapin mereka satu-satu, iya kalau satu anak, ini 3 anak, lumayan yaaa bok. Apa dengan nyuapin anak lantai jadi bebas dari sisa makanan juga, ternyata tidaak juga, jadi yang terjadi adalah stressfull, nyuapin iyaaaa, bersihin lantai juga😀 . Kemudian seiring berjalannya waktu, berdamailah saya dengan yang namanya keadaan, saatnya anak makan sendiri, memang agak panjang menceritakan tentang ‘aturan’ makan di depan, namun memudahkan untuk selanjutnya, konsekuensinya saya perlu menurunkan idealism saya dengan bertanya kembali sama diri sendiri, emang kenapa siiy kalau sisa makanan berantakan, bisa dibersihkan kan, lagipula anak-anak sudah tahu ‘aturan’ nya. Daaan ternyata berdamai dengan keadaan ini membuat hidup saya stressless😀 . Jadiii untuk saat ini, kalau memang ga kenapa-kenapa juga saya lebih memilih untuk berdamai dengan keadaan sajaaa.

Menurut Mba Putri, panggilan mba narsum, berdamai dengan keadaan bisa juga dipraktekkan ketikaa keadaan sudah sangat kacau, ketika marah bukan lagi menyelesaikan masalah, ketika nasi sudah jadi bubur, kalau sudah begini kita sebaiknya berdamai saja dengan keadaan yang ada, sambil berpikir apa yang selanjutnya kita lakukan. Seperti contoh saya, di suatu pagi yang sangat sibuk, anak pipis di celana terus jalan-jalan, sebagai keluarga najis freak, keadaan seperti ini sudah cukup kacau ditambah dengan kata panjang dari suami😀 . Yang saya lakukan saat itu adalah menolkan segala rasa, posisi emosi, strategi etc dalam posisi nol semua, berdamai dengan keadaan di pagi yang cukup sibuk tsb, dan melakukan yang perlu dilakukan selanjutnya, meminta semua untuk masuk kamar mandi, lalu mulai mengepel lantai rumah😀 .

Teruuus, kalaaau mau marah juga rasanyaa, gimana dunk..? Bagaimana siiy biar kita ga meledak-ledak marahnya..? Kalau menurut mba Putri

  1. Tarik nafaaas dalam-dalam
  2. Beritahu anak kalau kita butuh waktu untuk sendiri atau kita sedang marah
  3. Bicara pada anak ketika emosi sudah mereda

Tariiik nafas dalam-dalam bisa membuat kita punya waktu untuk berpikir

“perlu marah ga siy niiiy?”

“kalau marah, masalah jadi selesai ga siiiy…?”

Beritahu anak kalau kita butuh waktu untuk sendiri atau kita sedang marah. Ini suka saya lakukan untuk ga mau cari ribut sama anak😀 . Biasanya dengan bilang

“Ummi mau di kamar dulu..”

“Ummi lagi ga enak banget deh bawaaannya, mau marah terus..kamu boleh ga, ga deket-deket ummi dulu..”

Bicara pada anak ketika emosi sudah mereda membuat kita bisa bicara dengan baik sama anak, bisa pake senyum juga kalau ternyata anak menyadari kesalahannya, ataupun kalau mereka tidak menyadarinya kita bisa menceritakan letak kesalahan mereka ada dimana dengan baik😀

Yang perlu diperhatikan ketika kita sedang bicara atau marah sama anak adalah kita perlu satu suara sama pasangan kita atau kalaupun ternyata tidak satu suara hal tsb tidak ditunjukkan dihadapan anak-anak. Intinya adalah kita dan pasangan kita adalah satu team, jadi jangan sampai kita dan pasangan malah jadi lawan. Karena itu perlu ada kesepakatan dengan pasangan mengenai pola asdik pada anak, kalaupun memang tidak terjadi kesepakatan diharapkan untuk tidak ikut campur akan keputusan yang telah dibuat ketika di depan anak-anak.

Naah kadang, seperti yang telah dibahas dikit diatas tentang ‘kelepasan’ marah, mukul etc sama anak, jangan pernah gengsi untuk minta maaf sama mereka. Kalau saya selain minta maaf tentu saja menawarkan ganti rugi yang perlu saya bayar karena sudah buat mereka tidak nyaman akibat ‘kelepasan’ saya. Bagaimanapun juga anak adalah makhluk visual, mereka belajar dari melihat berbagai macam ekspresi kita.

Adapun tips lain untuk menjadi ibu yang lebih sabar, yaitu dengan mengajarkan kedisiplinan dan juga konsekuensi yang mana diperlukan konsistensi yang terus menerus. Dengan mengajarkan kedua hal ini, ibu bisa lebih ‘santai’ sedikit, karena anak yang disiplin, dan anak tahu konsekuensi atas kesalahan yang diperbuat membuat ibu tidak perlu keluar urat untuk terus mengingatkan alias bel baweeel😀. Misal disiplin waktu tidur malam, kebayang kan kalau anak masih ajak main hingga tengah malam, apa ga uring-uringan ibunya, karena kurang istirahat. Tahu konsekuensi tidak dapat bermain jika mainan tidak dirapikan kembali, sehingga ketika anak tidak merapikan kembali mainannya, anak tidak bisa bermain lagi untuk selanjutnya.

Selain itu, agar marah tidak menjadi serial tanpa akhir, ibu bisa melakukan aksi diam yang mana anak biasanya malah lebih peka ketika ibu mulai diam atau melakukan kesepakatan-kesepakatan (negosiasi) dengan anak tentang berbagai hal. Dan yang terpenting adalah bekerjasama dengan ayah untuk sesekali menjaga anak, membiarkan ayah punya quality time dengan anak-anak juga, yang mana di waktu tsb bisa ibu gunakan untuk ‘me time’ sejenak, meluangkan waktu sejenak untuk ibu punya waktu sendiri tanpa diganggu oleh anak-anak. Biasanya kalau ibu sudah melakukan ‘me time’, keadaaan bisa normal kembali.

Yang perlu disadari oleh ibu adalah, ibu juga manusia, kadang bisa marah, kadang bisa salah, daan semua itu adalah wajar. Dan selanjutnya adalah bagaimana marah yang kita punya menjadi marah yang baik, marah yang efektif, marah yang bisa menyelesaikan masalah, jikalau ternyata kita tak dapat melakukan marah yang menjadi demikian memang itu waktunya kita untuk diam atau berdamai saja dengan keadaan yang ada.

So, are you readyyyy😀

8 thoughts on “[42 of 52] Menjadi Ibu yang Lebih Sabar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s