[30 of 52] Tentang Pasutri..

Nulis ini karena terinspirasi dari cimageeritanya Adiesty tentang bom waktu dalam sebuah pernikahan.

Alhamdulillah tahun ini pernikahan kami masuk pada tahun ke-12. Harapannya sederhana, pastikan kita, selamanya. Bagi saya, menikah itu adalah ibadah, ibadah yang paling lama waktunya. Menikah itu bukan hanya tentang saya atau juga dia(suami) tapi sudah menjadi satu kesatuan menjadi kami, sedangkan kami tidak terbatas antara saya dan dia saja, tapi menginjak usia pernikahan yang ke 12 ini, ada anggota keluarga lainnya yang ikut serta dalam kata kami, yaitu anak-anak, 4 bocah yang makin besar dan perlu diperhitungkan dalam mengambil segala keputusan kami berdua sebagai pasutri.

Usia pernikahan yang lama bukan berarti menjadikan semua lebih mudah juga, tapi perlu yang namanya selalu menumbuhkan benih-benih cinta yang akan selalu bersemai terus setiap harinya. Karena menikah adalah ibadah, maka benih-benih itupun harus selalu sejalan dengan segala perintahNya. Menikah itu saling mengenal, pengenalan yang tiada akhirnya dengan pasangan, setidaknya itu yang saya rasakan. Sebagai manusia, kita selalu akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, diri kita yang sekarang tentu berbeda dengan diri kita di masa awal pernikahan. Seiring berjalannya waktu, masalah yang hadir dalam kehidupan tentu ada yang mengubah sisi kepribadian kita.

Masalah itu akan selalu ada, karena dengan adanya masalah tanda bahwa kita masih hidup di dunia ini, begitu juga didalam sebuah pernikahan, tentu bentuk dan tingkat kesulitan masalah yang dihadapi oleh setiap pasutri tidak selalu sama, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana kita melalui dan menyelesaikan masalah tsb. Ada beberapa masalah yang dihadapi oleh pasutri lama seperti saya..

  1. Komunikasi

Alhamdulillah, saya sudah melalui masalah ini dengan baik. Setidaknya itu dirasakan dengan makin santainya saya untuk nyerocos sama suami tentang segala hal, ntah dengan gaya manis sampai dengan sindiran setajam silet bisa saya lakukan dengan ‘santai’, begitu juga dengan suami, meski iyaaa, kadang diakhiri dengan airmata saya, hahaha, saya istri super sensi, candaan suami dengan nada tinggi maupun sindiran tajam bisa buat saya nangis begitu saja, tapi setelah itu selesai, no hurt feeling, apalagi suami yang selalu minta maaf kalau saya sudah meneteskan airmata😀. Tentu berada di fase ini perlu proses yang panjang untuk saya yang tidak mudah menyampaikan apa yang saya rasakan pada pasangan, tapii percaya deh memendam komunikasi pada pasangan juga ga menyelesaikan masalah. Jadi, saya sering bilang sama diri sendiri, sama suami juga, atau sama yang lagi curcol dengan saya untuk “just say it..” awalnya mungkin ga mudah, mungkin ada yang terluka, tapi perlu diingat oleh pasutri, jadikan pasangan kita adalah tempat curcol terbaik tentang segala hal, dan sebagai pasangannya kita juga memposisikan sebagai tempat curcol yang bisa dipercaya. Dipercaya dalam artian, bisa menyokong, mensupport, juga menasihati.

  1. (Pendidikan) Anak

Pendidikan anak-anak yang sudah (keburu) besar. Tentu informasi tentang parenting di jaman awal pernikahan dulu tidak sebanyak sekarang. Ada beberapa bagian pendidikan anak-anak yang perlu mengalami perubahan dari kita sebagai ortu yang menginginkan anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti yang disebutkan diatas, masa ini adalah masa dimana anak-anak perlu untuk diajak lebih sering. Pada masa ini, masalah tidak lagi terpusat pada pasutri itu sendiri, namun pada anggota keluarga kecil yang mulai perlu mendapat perhatian lebih. Pada sebuah kajian, kehidupan pasutri itu dibagi 3 fase, pertama 10 tahun pertama adalah fase berkembangbiak, kedua 10 tahun kedua adalah fase mendidik anak, ketiga 10 tahun ketiga dst adalah fase bersosialisasi. Jadi, dalam fase 10 tahun kedua ini, pendidikan anak memang menjadi prioritas kami sebagai ortu yang sudah tidak lagi berkembangbiak😀 .

  1. Aktualisasi diri

Ini tentang keeksisan sebagai diri pribadi masing-masing😀 . Mulai membangun komunikasi-komunikasi apa yang akan kita lakukan di fase 10 tahun ketiga dst nanti, memang terkesan masih lama, tapi kita perlu untuk merancang dan mempersiapkannya dari sekarang. Bukan hanya mempersiapkan diri sendiri tapi juga pasangan kita akan apa saja yang akan terjadi/berubah dalam perjalanan aktuliasasi diri nanti.

Apapun permasalahan yang ada dalam kehidupan pernikahan, perlu diingat bahwa pasutri selalu berada dalam satu team, dengan begitu kita dapat dengan mudah melewati permasalahan yang ada dengan lancar. Serta tak lupa, untuk senantiasa memohon pada Nya agar selalu dihimpunkan pada keluarga yang penuh dengan ridho dan barokahNya.

“ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.”

“Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon:74)

2 thoughts on “[30 of 52] Tentang Pasutri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s