[13 of 52] Perempuan Dalam Al Qur’an..

wpid-img_20150422_151927.jpg

Melanjutkan resume yang kemarin, tentang wanita berdasarkan perannya. Pada bagian ini, beberapa hikmah dari perempuan-perempuan yang namanya tertulis di dalam al Quran akan diulas. Tulisan berikut masih diambil dari blognya Hidayat Family (semoga menjadi ilmu yang bermanfaat) 

*****

Resume Materi Peranmu Surgamu

AKU (Akademi Keluarga) Mustawa 1 – Parenting Nabawiyyah & HSMN Depok
Narasumber: Ustzh. Poppy Yuditya
Tanggal: 18 Maret 2015

1. MARYAM

Maryam ialah satu-satunya perempuan yang namanya tertulis, bahkan diabadikan sebagai nama Surat, di dalam Al Quran karena beliau ialah wanita yang terbebas dari aib dan beliau menjaga kemuliannya dengan banyak berdiam diri di dalam mihrabnya.

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS 3: 37)

Dari Maryam, ada hikmah bagi perempuan yang belum menikah, yaitu menjaga kehormatan diri dan giat mencari ilmu.

2. BALQIS

Balqis ialah seorang pemimpin negeri yang damai dan makmur. Dari Balqis, kita menemukan hikmah bahwa:

  • Perempuan boleh menjadi pemimpin, jika tidak ada laki-laki yang mampu
  • Bersegera taat dan tunduk kepada kebenaran ketika menemukannya.

Dalam QS 27: 44, setelah Balqis menyaksikan mukjizat dari nabi Sulaiman as, maka ia berkata, “Ya Tuhanku sungguh aku telah berbuat dzalim terhadap diriku, aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh Alam”. Maka setelah ia tunduk kepada Allah, ia segera menyerahkan tampuk kekuasaannya kepada Sulaiman. Kisah Balqis sama halnya seperti kisah Khadijah ra. Ketika Khadijah ra menerima kebenaran dari Rasulullaah saw, Khadijah ra menerima kebenaran tersebut dan menyerahkan perniagaannya kepada Rasulullaah saw.

3&4. DUA PEREMPUAN YANG BERTEMU MUSA

Mari kita simak dan petik hikmah dari dua perempuan yang bertemu Musa seperti yang dikisahkan di dalam Al Quran.

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. (QS 28: 23).

Ayat ini menceritakan tentang dua orang wanita yang bekerja menggembalakan ternak ayahnya. Darinya, kita dapat memetik pelajaran bahwa wanita boleh bekerja jika: belum menikah, orangtuanya sudah berusia lanjut sehingga tidak mampu bekerja dan mencari nafkah, serta tidak ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan).

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” … “. (QS 28: 25)

Selanjutnya dikisahkan bahwa nabi Musa as mengunjungi ayah dari wanita tersebut (nabi Syu’aib as), bersama kedua wanita tsb. Maka nabi Musa as memintanya untuk berjalan di belakangnya serta memberinya petunjuk jalan dengan cara melempar batu. Jika arahnya ke kiri, maka wanita tersebut harus melempar batu ke kiri, dan begitu juga jika arahnya ke kanan. Ayat serta kisah ini menceritakan tentang adab seorang wanita ketika bertemu dan berbicara kepada seorang pria yang bukan mahramnya: tidak merendahkan suara atau mendayu-dayu dan berbicara dengan santun, menjaga aurat, serta berjalan di belakang laki-laki untuk menghindari fitnah.

5. IBUNDA MUSA

Ibunda Musa memberikan kepercayaan kepada anak perempuannya untuk melarung dan mengawasi keranjang yang berisi bayi Musa as yang dihanyutkan di sungai Nil. Darinya, kita dapat belajar bahwa ketika pada akhirnya orangtua harus melepas anaknya (misalnya, bersekolah), maka orangtua semestinya menyerahkan anak pada pihak yang dapat dipercaya.

6. SAUDARA PEREMPUAN MUSA

Dikisahkan bahwa saudara perempuan Musa mendapatkan kepercayaan dari ibunda Musa untuk melarung keranjang yang berisi bayi Musa as di sungai Nil untuk menyelamatkannya dari kejahatan tentara Fir’aun. Maka ketika keranjang itu terdampar dan ditemukan oleh Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun), maka saudara perempuan Musa as menawarkan kepada Asiyah seorang ibu susu untuk bayi Musa tsb, yaitu ibundanya.

Di dalam Al Quran, ia berkata, “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” (QS 20: 40).

Dari ayat ini kita dapat melihat kecerdasan seorang perempuan dalam bernegosiasi dengan salah satu istri pembesar saat itu. Darinya, kita dapat belajar bahwa seorang perempuan harus cerdas, pun ketika seorang perempuan harus bernegosiasi dengan suaminya.

7. ISTRI ADAM (HAWA)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan, bahwa sesungguhnya asal muasal tipu daya perempuan ialah berasal dari Hawa. Hawa ikut mendorong nabi Adam as untuk memakan buah Khuldi sehingga mereka berdua terlempar dari syurga Allah.

Perempuan sesungguhnya memiliki tipu daya atau fitnah yang besar. Selaras dengan sabda Rasulullaah saw dalan suatu hadist riwayat Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR Bukhari: 5096 dan  Muslim: 2740).

Maka sebagai istri, perempuan perlu berhati-hati dengan ucapan atau saran apapun yang ia berikan kepada suami. Jangan sampai saran yang ia berikan kepada suami menjatuhkan suami bahkan keluarga ke dalam dosa dan petaka.

8. ISTRI NUH

Dikisahkan bahwa ketika Nabi Nuh as membuat perahu, istrinya tidak mempercayainya dan berkata, “Mengapa kamu membuat perahu padahal sedang kemarau?”. Kemudian ketika banjir datang, istrinya justru memilih untuk tidak ikut Nabi Nuh as ke dalam perahunya.

Dari kisahnya kita dapat melihat bahwa sebagai istri, kita perlu berhati-hati dengan ucapan atau ketidakpercayaan kita terhadap suami. Hal kecil yang kita remehkan dari suami karena ketidakpercayaan kita, sesungguhnya dapat menjadi sebab durhaka kita kepadanya.

Dari istri Nuh, kita juga dapat melihat bagaimana ketidakpercayaan dan khianat istri berakibat buruk terhadap pendidikan anak. Putra nabi Nuh, Kan’an, pun ikut menolak ketika sang ayah mengajaknya untuk naik ke dalam perahunya.

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung dan Nuh memanggil anaknya,sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS 11: 42-43)

Inilah contoh dimana istri yang berkhianat pada suaminya maka akan memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anaknya. Mari kita bandingkan dengan kisah Hajar di point berikutnya.

9. ISTRI LUTH

Sama halnya seperti istri Nuh, istri Luth ialah istri yang berkhianat. Ketika nabi Luth kedatangan tamu-tamu yaitu malaikat yang rupawan, istrinya membocorkan rahasia kedatangan malaikat-malaikat tersebut kepada penduduk.

Maka sebagi istri, kita perlu berhati-hati dengan lisan kita. Jangan sampai lisan kita membocorkan rahasia yang tidak disukai suami atau bahkan menjadi aib baginya.

10. ISTRI IBRAHIM (SARAH)

Mari kita simak dan petik hikmah dari Sarah seperti yang dikisahkan di dalam Al Quran.

Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub Isterinya berkata: Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh(QS 11: 71-72).

Jika kita mengamati tata urutan kisah tentang Sarah dalam ayat-ayat tsb, kita menemukan bahwa Sarah tersenyum dengan kedatangan malaikat, lalu datanglah kabar gembira kepadanya tentang kelahiran anak. Dikisahkan dalam kisah kelahiran Ishaq as, bahwa berita gembira di atas datang bertepatan dengan kelahiran Ismail as. Ketika itu, nabi Ibrahim as berusia 86 tahun. Sementara, nabi Ibrahim as berusia 100 tahun ketika Ishaq as lahir. Artinya, kelahiran Ishaq as ialah 14 tahun setelah beliau dan istrinya mendapati berita gembira itu.

Kembali pada ayat sebelumnya, kehadiran malaikat membuat Sarah tersenyum yang selanjutnya diiringi dengan berita gembira akan kelahiran seorang anak. Maknanya, Sarah bergembira terlebih dahulu, sehingga datanglah kabar gembira itu, meskipun ia menunggu hingga 14 tahun hingga datang buah hati yang dinantinya.

Ini yang patut dijadikan contoh bagi pasangan yang merindukan kehadiran anak, bahwa pasangan patut bergembira dan yakin akan datangnya kabar gembira. Karena tiada yang tidak mungkin bagi Allah, pasangan yang tua seperti halnya Ibrahim as dan Sarah pun bisa dikaruniai anak jika Allah berkehendak. Resapi bagaimana selanjutnya Allah berfirman dalam ayat selanjutnya.

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”” (QS 11: 73).

11. ISTRI IBRAHIM (HAJAR)

Masih ingat kisah istri nabi Nuh dan putranya, Kan’an? Ketika nabi Nuh as mengajak Kan’an untuk naik ke dalam bahtera ketika terjadi banjir, putranya justru menolak. Durhaka Kan’an juga disebabkan oleh pengaruh durhaka istri Nuh. Kisah Hajar berbanding terbalik dengan kisah istri nabi Nuh.

Hajar ialah seorang wanita yang sangat taat terhadap suaminya. Melalui pendidikan Hajar, lahir seorang Ismail as, yang juga begitu taat terhadap ayahnya. Ketika nabi Ibrahim as memberitahu Ismail as perihal mimpi untuk menyembelihnya, maka Ismail taat kepada ayahnya.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sha Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”” (QS 37: 102)

Coba resapi kisah istri nabi Nuh dan Kan’an dengan Hajar dan Ismail as. Dari kedua kisah tersebut kita menemukan bahwa durhaka atau ketaatan istri “diturunkan” kepada anak-anaknya. Maka, jika kita menemukan anak-anak kita sulit dinasehati, sebagi istri kita perlu mengevaluasi diri sendiri secara bertahap: bagaimana kita mendidik anak > bagaimana ketaatan kita terhadap suami > bagaimana ibadah kita kepada Allah.

Pada mulanya ketika Ismail as baru saja dilahirkan dan masih dalam penyusuan, nabi Ibrahim as mengajak Hajar untuk pergi ke suatu tempat (yang kemudian diketahui atas perintah Allah, tujuan mereka ialah Mekkah) Hajar tidak bertanya apapun kepada suaminya. Ia mendengar dan ia taat. Sama halnya ketika Khadijah ra menemui Rasulullaah saw dalam keadaan menggigil ketika menerima wahyu pertama kali. Beliau ra tidak bertanya apapun kepada Rasulullaah saw, beliau ra menyelimuti dan membaringkannya. Barulah ketika Rasulullaah saw bercerita, beliau ra menghibur dan memberi saran.

Dari keduanya kita mendapat pelajaran:

  • Evaluasi diri dan tahan lisan kita. Jangan sampai pertanyaan-pertanyaan kita justru membuat suami kita gelisah dan menambah beban pikirannya.
  • Ketika pun kita bertanya, dan suami tidak menjawab, maka hargailah, karena mungkin memang ia tidak tahu.
  • Ketika kita bertanya, maka harus siap dengan jawaban apapun yang diberikan oleh suami

Selanjutnya ketika mereka tiba di Mekkah yaitu di sisi Ka’bah, Ibrahim as membuat sebuah pondok kecil yang atapnya terbuat dari dahan kurma. Kemudian, mereka bermalam di sana. Keesokan harinya, Ibrahim as meninggalkan Ismail as dengan Hajar dengan hanya memberikan bekal berupa sekantung kurma dan sebuah wadah air. Saat itu, di Mekkah tidak ada siapa pun, dan tanpa sumber air. Kemudian nabi Ibrahim as berpaling dan pergi. Hajar mengikutinya sembari berkata: “Wahai, Ibrahim! Kemana engkau akan pergi meninggalkan kami di lembah yang sunyi dan tak berpenghuni ini?” Hajar mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh, tak pula menghiraukannya. Kemudian Hajar pun bertanya: “Apakah Allah yang telah memerintahkan engkau dengan ini?” Ibrahim menjawab, “Ya!” Mendengar jawaban tsb, selanjutnya Hajar berkata, “Jika demikian Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.

Betapa teguhnya keimanan Hajar terhadap Allah. Dengan hanya bermodalkan sekantung kurma dan satu wadah air, ia menyakini pertolongan Allah. Pernahkah terbayang kita berada pada situasi yang serupa? Misalnya, jika kita tidak bekerja lalu suami meninggal dunia, sesungguhnya kita tidak perlu takut. Tidak perlu pula berandai-andai dengan situasi yang tidak kita ketahui kepastiannya, bisa jadi kita mendahului suami kita. Jika pun suami kita meninggalkan kita, maka kita (in sha Allah) memiliki modal yang jauh lebih baik dari Hajar, yang hanya bermodal sekantung kurma dan satu wadah air.

Selanjutnya, dikisahkan bahwa setelah itu mereka kehabisan bekal air dan bayi Ismail as menangis karena kehausan. Maka Hajar berlari-lari bolak balik, dari bukit Shafa ke Marwah, sementara bayi Ismail as ditinggalkannya di sisi Ka’bah. Ia berlari-lari bolak-balik untuk dapat mengawasi bayi Ismail as yang ketika itu ditinggalkannya. Maka, begitu pun kita, hendaknya seorang ibu selalu berusaha untuk menjaga anak dalam pengawasannya.

12. ISTRI AL AZIS (ZULAIKHA)

Dikisahkan bahwa istri Al Azis tertarik dengan ketampanan Yusuf as.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS 12: 23)

Dengan demikian, istri pun harus waspada, bahwa ia pun dapat tergoda oleh pria lainnya.

13. ISTRI FIR’AUN (ASIYAH)

Dikisahkan bahwa ketika Asiyah menemukan bayi Musa as, ia membujuk Fir’aun agar mau mengangkat bayi tersebut sebagai anak.

Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (QS 28: 9)

Asiyah membujuk Fir’aun untuk melakukan kebajikan. Inilah yang sepatutnya seorang istri lakukan, yaitu mengajak suami dalam kebaikan.

14. ISTRI IMRAN

Istri Imran berdoa untuk menazarkan putrinya, Maryam, sebagai hamba Allah yang berkhidmat.

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui””. (QS 3: 35)

Dari istri Imran, kita dapat memetik hikmah untuk berdoa setinggi-tingginya dan sebaik-baiknya bagi anak. Namun, orangtua juga perlu siap. Misalnya, jika kita mendoakan anak kita agar kelak menjadi mujahid dan mujahidah di jalan Allah, maka kita pun harus siap mendukung anak untuk berjuang. Teladani Asma binti Abu Bakar ketika melepas anak-anaknya untuk berjihad.

15. ISTRI ZAKARIA

Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. Tuhan berfirman, “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali””. (QS 19: 8-9)

Tiada yang tidak mungkin bagi Allah. Sekali lagi, kita harus menyakini atas pertolongan dan kabar gembira yang akan datang dari Allah. Jika Allah berkehendak, maka apapun dapat terjadi, seperti halnya istri Zakaria yang mandul pun dapat memiliki anak.

16. ISTRI RASULULLAH saw (HAFSHAH ra)

Al Quran menuturkan kisah mengenai Hafshah ra.

Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (QS 66: 3-4)

Ayat tersebut pada awalnya mengisahkan tentang Rasulullaah saw yang mengharamkan sesuatu yang halal (yaitu madu) agar menyenangkan hati istri-istrinya. Hal ini disebabkan oleh kecemburuan Hafshah ra dan Aisyah ra terhadap Zainab ra yang telah memberikan minuman madu tsb kepada Rasulullaah saw. Allah menegur nabi dan istri-istrinya dalam ayat tsb, untuk selanjutnya melakukan taubat.

Dari kisah tersebut, maka sebagai istri kita patut untuk menjaga diri dalam perkara halal dan haram bersama suami dan bersegera untuk bertaubat jika melakukan kesalahan.

17. ISTRI RASULULLAH saw (AISYAH ra)

Di dalam QS 24: 11-16, dikisahkan kejadian hadistul ‘ifk, yaitu tersebarnya berita bohong mengenai Aisyah ra. Aisyah ra diri menahan diri dari fitnah yang tersebar dan memohon petunjuk kepada Allah sehingga Allah memberikan petunjuk kepada Rasulullaah saw mengenai kebenaran dari berita fitnah tsb.

Seorang perempuan sepatutnya juga menahan diri dan menahan lisan dari membuat fitnah dan menyebarkannya.

18. ISTRI RASULULLAH saw (ZAINAB ra)

Di dalam QS 33: 37-18, dikisahkan perceraian Zaid bin Haritshah ra (putra angkat nabi saw) dengan Zainab binti Jahsy ra. Kemudian, Rasulullaah saw menikah dengan Zainab ra.

Adapun hikmah dari kisah tersebut ialah bahwa perceraian bukanlah aib, justru perceraian dapat menjadi solusi bagi pasangan suami istri menuju arah yang lebih baik.

19. KHAULAH BINTI TSA’LABAH

Perempuan yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah tentang suaminya.

Dalam  QS. Al- Mujadilah: 1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

20. ISTRI ABU LAHAB

Di dalam surat Al Lahab, kita dapat menyimak kisah pasangan suami istri keluarga Lahab yang menentang dan menyakiti Rasulullaah saw. Istri Abu Lahab, dalam hal ini, menjadi orang yang “memanasi” Abu Lahab dalam permusuhannya dengan Rasulullah saw.

Dengan demikian, sebagai istri, kita perlu waspada agar jangan sampai menjadi “kompor” yang memanaskan hati suami sehingga suami tercebur dalam keburukan atau maksiat.

*****

Demikianlah hikmah dari perempuan-perempuan yang dikisahkan dalam AL-Qur’an, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari perempuan-perempuan tersebut. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s