Faspel vs Fasbel

image

Pada dasarnya, naluri sebagai orangtua adalah membuat anaknya aman nyaman, memenuhi segala keinginannya yang belum tentu merupakan kebutuhannya atau juga sebaliknya, ‘memaksa’ segala keinginan ortu yang belum tentu sesuai kebutuhannya dengan dalih untuk kebaikan dirinya (sound familiar, isn’t it)o_O

Naluri yang demikian dalam #ruasdito disebut dengan faspel (fasilitas pelindung). Ga mau anaknya susah, ga mau anaknya repot, ntah itu untuk kepentingan anaknya atau sebenarnya untuk kepentingan ortu sendiri, yang ga mau denger berisiknya anak, ga mau capek, etc. Dengan dalih, ga tega, biar ga berantakan😥

Namun, biasanya menjadi faspel, mudah di awal saja, selanjutnya akan makin sulit. Sulit, karena anak semakin tumbuh besar, dan pada saat itu kita menuntut anak menjadi pribadi dewasa sedangkan kita sebagai faspel tidak pernah melatihnya. Yang ada, anak ‘dipaksa’ dewasa tanpa dia tahu dewasa itu seperti apa,

Dulu, dengan alasan ‘males’ bersihin sisa makanan yang berceceran karena anak-anak makan sendiri, saya lebih memilih untuk menyuapi anak-anak. Hingga, ketika kakak, anak tertua saya berumur 8th, masih minta disuapi, padahal di sekolah dia bisa makan sendiri. Lalu saya tanya diri sendiri,
“ini anak-anak, kalau saya meninggal besok, sudah bisa apa saja..apa yang sudah saya tinggalkan untuk kemandirian mereka..”
Sejak saat itu saya mulai mengubah cara asdik pada anak-anak.

Ketika mulai mengubah asdik, tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan, criing, anak langsung bisa mandiri. Dari sisi saya sendiri, tentu perlu ‘beli’ sumbu sabar yang lebih panjang lagi😀. Yang biasanya tak perlu memikirkan rumah yang berantakan karena nasi, saat itu perlu untuk melatih anak-anak bagaimana selanjutnya jika ada nasi yang berceceran. Dari sisi anak-anak, tentu saja sama, untuk memulai semua ini tak mudah. Yang biasanya tinggal mangap, saat itu mereka perlu menggerakkan tangannya untuk memasukkan makanan ke mulutnya.

Usaha seperti ini, dalam #ruasdito disebut dengan fasbel (fasilitas belajar). Kadangkala, kita perlu menekan segala rasa yang merupakan naluri sebagai ortu. Membiarkan anak menangis ketika mereka ‘memaksa’ keinginannya dipenuhi, ‘mengizinkan’ mereka untuk merasakan segala rasa, ‘menonton’ nya ketika mereka bertengkar (selama aman dan adil).

Memang, menjadi fasbel, sulit di awal, namun, kita bisa menikmati kemudahan setelahnya. Mudah, karena anak yang semakin tumbuh besar, dan mereka sudah mendapatkan ‘pelatihan’ nya. Yang ada, anak menjadi dewasa tanpa perlu dipaksa.

Seperti kata pepatah, berakit rakit ke hulu berenang renang ke tepian, bersakit sakit dahulu senang kemudian.
Iyaa, saya baru setahun belakangan ini mengubah cara asdik pada anak-anak, awalnya memang sulit, kejeduk jeduk teruso_O tapi seiring berjalannya waktu juga proses belajar, saya merasakan mudahnya.

Menjadi faspel ato fasbel itu memang pilihan, tinggal kita mau memutuskan memilih yang mana..:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s