Belajar Minta Izin..

Ceritanya, sekarang, mulai fokus untuk anak-anak belajar minta izin dengan teladan yang berusaha konsisten, daripada belajar berbagi tapi teladan tidak bisa konsisten.

Lho? Misalnya apa? Contoh anak diminta belajar berbagi, tapi emaknya manyun kalau anak mulai bagi-bagi makanan sama teman-teman yang datang ke rumah tiap hari padahal itu jatah makanan untuk 2 minggu kedepan😀

“kata Ummi, kita harus berbagi kan..” kata mereka..

Jreeeng!😀

Sebelum cerita lebih lanjut lagi, mau berbagi bacaan dulu tentang bab “Etika Meminta Izin” yang ada di buku Pendidikan Anak Dalam Islam karya Abdulloh Nasih Ulwan

Jadi di buku ini, ada pembahasan tersendiri tentang meminta izin. Di dalam meminta izin, terdapat etika yang harus ditanamkan oleh pendidik kepada anak, demi menaati firman Alloh SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta ijin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu, dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” (QS.24:58)

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta ijin, seperti orang-orang yang sebelum mereka (yang sudah balig), meminta ijin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.” (QS.24:59)

Dari firman Alloh SWT di atas, jelas banget kan yaaa. Ada waktu-waktu dimana anak-anak disyariatkan untuk meminta izin, begitu juga ketika anak-anak sudah menginjak usia baligh dan dewasa, maka mereka diharuskan meminta izin di dalam tiga waktu tersebut dan waktu lainnya.

Kalau di rumah, dikenalkan dengan tiga waktu ini sik sudah, sekilas, pelaksanaannya masih jauh dari seharusnya, karena saya dan suami masih tidur bersama anak-anak, saya bersama anak-anak perempuan, suami bersama anak-anak laki-laki *pasutri pisah ranjang😀 *

Dalam meminta izin, terdapat etika lain seperti di bawah ini :

  1. Memberi salam dulu, kemudian meminta izin
  2. Memberitahukan nama, sifat julukannya
  3. Meminta izin tiga kali
  4. Tidak mengetuk pintu dengan keras
  5. Menjauh dari pintu ketika minta izin
  6. Jika tuan rumah memerintahkan pulang

Nah, dari berbagi bacaan singkat di atas, ga jauh beda sama yang sedang difokuskan oleh saya dan anak-anak di rumah, yaitu meminta izin.

Kalau dulu, adik nangis karena ga dapet mainan, langsung bilang “Kakaaaak, berbagi dunk sama adiknya..| ngalah dunk, Kaaak..” dsb -_-

Sekarang, anak-anak diarahkan untuk meminta izin terlebih dahulu sama pemilik barang. Atau mulai meneladani perilaku ‘minta izin’ sama anak-anak.

Sebagai ortu yang faspel (fasilitas pelindung) bingit, maunya tuh cepetan ga pake lama -_- biasanya langsung ambil alih apa yang sedang anak-anak lakuin daripada membiarkan mereka melakukannya sendiri. Nah, sekarang mulai ‘minta izin’ kalau mau ‘bantuin’ mereka.

“abang, mau Ummi bantuin..?”

Kadang ada anak yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu sendiri, namun ortu jarang memberikannya kesempatan dengan mengambil alih langsung. Dengan minta izin terlebih dahulu pada anak, anak merasa diberi kesempatan oleh ortu untuk bisa memutuskan, melakukannya sendiri atau sedang butuh bantuan ortu.

Atau minta izin terlebih dahulu pada pemilik barang atau kepunyaan siapa. Awalnya memang sedikit kikuk dan aneh, yaaaa masa mo minum dari air yang di ambil oleh adik atau kakak, mereka atau saya harus ‘minta izin’ dulu😀

Misal, kakak yang ambil minum dari belakang, segelas besar, yang dia ambil untuk keperluannya setelah makan. Biasanya sik, dulu, kalau adik mau minum truz ga boleh sama kakak, langsung deh nyerocos aje emaknya -_- ‘ngomelin’ kakak karena ga mau berbagi. Sekarang, mengarahkan adik untuk ‘minta izin’ dulu sama kakak, tanya sama kakak nya, boleh atau tidak. Kalau boleh, silahkan, terimakasih, kalau tidak, silahkan, ambil sendiri di belakang.

Begitu juga dengan aneka barang kepunyaan mereka, ‘minta izin’ sudah mulai ‘membudaya’ di rumah kami. Saya rasa dengan begini, suasana menjadi lebih adil, kalaupun memang ada yang ‘kesal’ karena tidak diizinkan ini menjadi proses belajar kecewa.

Di dalam buku tersebut lagi Firman Alloh SWT,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah, yang bukan rumahmu, sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS.24:27)

“Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk, sebelum kamu mendapat ijin. Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembali (saja)lah’, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.24:28)

Bagi orang yang meminta izin, kemudian tidak diizinkan, hendaklah tidak perlu merasa berat untuk kembali pulang, demi menaati perintah Alloh SWT.

Jadi, perlu ditekankan pada anak tentang kepemilikkan, kepunyaan. Siapa yang punya, siapa yang tuan rumah. Pemilik, tuan rumah, punya hak untuk menolak atau tidak mengizinkan apa yang dia miliki. *eh masih ingat dunk yaa klo ‘milik’ ga punya hak, dia ngikutin apa keputusan ‘pemilik’nya aja*

Dengan belajar minta izin, mereka belajar tentang kepemilikkannya sendiri, juga belajar tentang kepemilikkannya orang lain. Ga khawatir anak-anak jadi tidak suka berbagi, nantinya? Berbagi, akan tumbuh dengan sendirinya, seiring dengan kedewasaan mereka, anak-anak akan memiliki rasa peduli pada orang lain. Awalnya mungkin iya, peduli pada diri sendirinya, karena pernah merasa bagaimana rasanya tidak diizinkan, mereka jadi ‘mau ga mau’ yaaa berbagi juga, dengan harapan pihak lain akan berbagi juga dengan mereka.

Misal, abang ga ngizinin kakak buat pakai sepedanya, tapi abang suka sama mainan baru kakak yang dibeli di sekolah. Lalu kemudian, “iyaa, kakak boleh pakai sepedaku, tapi aku pinjam mainan kakak yaaa..” *children see, children do-yang kya kya gini niy bikin emak jadi santai😀 *

Dari belajar minta izin, mereka belajar memutuskan, mengambil keputusan, kapan menolak atau mempertahankan miliknya, kapan berbagi.

Jadiii, sudah minta izin anak belum hari ini😀

3 thoughts on “Belajar Minta Izin..

  1. catatantian says:

    anakku selalu dibiasain untuk minta izin mau melakukan apapun, agar kelak dia bisa menjadi manusia yang santun dan ga sembarangan🙂.. nice posting .. thanks for info ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s