Jadi Wasit (Tinju)..

Ada PR yang belum tuntas di tahun 2013 lalu, yaitu jadi wasit (tinju)😀 (ketika anak bertengkar)

Tentang wasit (tinju) di perpus Om Ge :

1. mjd wasit (tinju) adalah istilah yg aku pakai utk bantu menjelaskan peranan ortu dlm situasi sengketa yg tjd diantara anak-anak. #gestwit
2. mjd wasit (tinju) itu memberi kesempatan pd anak2 yg terlibat dlm sengketa utk belajar menyelesaikan masalah atau situasi sulit. #gestwit
3. mjd wasit (tinju) scr prinsip dilandasi semangat utk memperlakukan anak2 sbg manusia, bkn sbg kuda delman yg tgt pd tali kekang. #gestwit
4. mjd wasit (tinju) jg menghindarkan ortu dr potensi salah memutuskan, krn kadang ortu tdk tahu apa alasan-tujuan tjdnya sengketa. #gestwit
5. mjd wasit (tinju) scr tidak lsg membantu ortu memberi teladan ttg perbedaan faktual antara sikap peduli dan perilaku mencampuri. #gestwit
6. mjd wasit (tinju) ketika anak2 terlibat sengketa berisi perilaku mengawasi-memastikan sengketa berlangsung dg cara yg adil-aman. #gestwit
7. mjd wasit (tinju) bila sengketa tdk adil atau tdk aman berisi perilaku menghentikan sengketa utk minta ganti cara spy adil-aman. #gestwit
8. mjd wasit (tinju) bukan berisi perilaku utk menentukan akhir/hasil sengketa, sebagaimana hakim mjd penentu vonis di persidangan. #gestwit
9. mjd wasit (tinju) saat anak2 bersengketa membantu ortu menuntaskan tgs belajar utk mjd kamus handal di tahap tut wuri handayani. #gestwit

Kenapa belum tuntas? Jawabnya, ya kenapa ga😀 . Yang jelas, masih terus belajar jadi wasit.

Jadi, sejak kepikiran “kalau saya meninggal, anak-anak sudah bisa apa aja yaaa” saya mulai mengubah pola asdik ke anak-anak, yang tadinya jadi faspel (fasiitas pelindung) banget, dimana hal itu hanya untuk kepentingan saya semata, menjadi fasbel (fasilitas belajar), dimana hal itu yang kemudian menjadi kepentingan untuk belajar anak-anak menjadi dewasa.

Salah satunya, mutusin buat jadi wasit. Karena cuapeeeee jadi ‘hakim’ pas anak bertengkar😀 . Di satu sisi pengen belain yang lemah, di satu sisi yang lain pengen belain yang benar, di sisi yang lain pengen adil juga. Pernah kan ngerasain seperti itu pas anak-anak bertengkar satu sama lain.

Kalau dulu, biar urusan cepet selesai, semua senang *padahal ternyata emaknya aje yang ‘seneng’-anak pada diem jadinya* -_- saya yang sok ikut campur, turun tangan ketika ada anak yang mulai ‘laporan’..”ummiiiii, kakak niiiy” atau ada anak yang nangis tersedu-sedu. Biasanya si ‘hakim’ (saya) langsung aja tuh nyerocos “kakaaaak, koq gitu sik bla bla bla..” *kasihan yaa Kakak..nunduk, maafin ya Kak..*

Kalau sekarang, membiarkan suatu pertengkaran menjadi proses belajar untuk anak-anak. Kita ga pernah tahu, anak-anak bisa nyelesain masalahnya atau ga kalau kita ga pernah ngelatihnya kan. Bersyukur, punya 4 anak dengan berbagai macam tipe, terutama sang kakak sebagai ‘fasbel’ untuk adik-adiknya dalam ‘bab’ bertengkar😀 *berkah, punya anak pertama yaaaaaang ‘iseng’ nya minta dicium, anaknya siapa siiik-lirik suami*

Berusaha untuk ga ikut campur di dalam pertengkaran mereka kalau tidak dilibatkan, kalaupun dilibatkan, dirasakan, anak melibatkan kita sebagai apa, tempat curhat, cari bemper, atau butuh kamus. Cukup dilihat dan dipastikan pertengkaran berjalan adil dan aman. Kalau pertengkaran dinilai ga adil dan ga aman, kita bisa mengintervensi (ikut campur-turun tangan) sebatas perilaku bahayanya saja, bukan ikut campur apa yang jadi masalahnya.

ga adil itu klo perilakunya secara objektif ga berimbang sehingga menguntungkan pihak yg secara alami lebih unggul (kuat/cepat/besar/dll).

ga aman itu klo perilakunya secara objektif berpotensi melukai fisik.(Toge Aprilianto)

Kalau misal pertengkaran menimbulkan luka fisik, maka

klo ketauan lukanya setelah kejadian ya brarti kan itu di luar kendali kita.

klo luka itu terjadi tanpa sengaja, bukan dengan niat melukai, perlakuin itu sebagai kecelakaan.

Jadi, urus lukanya lalu fasilitasi proses pertanggungjawabannya, klo korban ngrasa rugi dan mo minta ganti rugi.

klo luka itu disengaja, memang dengan niat melukai, perlakuin itu sebagai aksi bahaya.

jadi, fasilitasi tanggungjawabnya, lalu dalam situasi yang nyaman, iklanin tentang bagaimana cara bersengketa yang ok (adil-aman).(Toge Aprilianto)

Di luar suasana pertengkaran, ketika santai, sering-sering mengiklankan tentang ‘aman’. Kecewa yang aman, bertengkar yang aman, dsb. ‘aman’ itu seperti apa, ‘aman’ itu tidak menyakiti diri sendiri, tidak menyakiti orang lain, tidak merusak barang.

Sekilas, tampak gampang menjadi wasit (tinju). Tapiii, pada praktek di lapangan, kadang mulut gatel masih berjalan, sisa faspel di masa lalu masih melekat jelas😀 . Meski begitu, proses belajar tetap berjalan. Anak-anak mulai mengerti pola asdik saya, yang buat bahagia ada cahaya keadilaan di mata sang kakak yang di masa lalu selalu menjadi terdakwa oleh saya, atau adik yang mulai bisa menghadapi masalahnya dengan kakaknya tanpa perlu teriak-teriak lagi karena tahu, saya jarang bisa ‘diandalkan’ lagi😀 .

Semoga kelak, jika mereka menghadapi suatu ‘pertengkaran’, ntah itu dengan orang ataupun dengan dirinya sendiri, mereka bisa melaluinya dengan aman dan adil.

4 thoughts on “Jadi Wasit (Tinju)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s