Mama, Fasbel Terbaikku..

No matter what happened to us, my mother always be my teacher to learn everything

hari ibu 2013

Ini cerita tentang hubungan ibu dan anak yang penuh dengan perbedaan😀 . Iya, ini cerita tentang saya dan Mama.

Saya mau A, Mama mau B. Mama mikir A, saya mikir B. Yup, saya tumbuh dengan segala perbedaan yang ada dengan Mama. Sekarang bisa senyum kalau mengingatnya, tapi tidak ketika saat melewatinya. Daaan ini yang buat Mama menjadi ‘fasbel’ (fasilitas belajar) terbaik untuk saya.

Cerita saat kecil. Mama adalah tipe ibu yang galaknya ampun deh😀 . Saya, mungkin membawa tipe Papa, jadi suka dalam zona aman, males cari masalah, atau dalam kata lain ga mau deh dimarahin Mama😀 . Jadi, otak saya cuma kasih sinyal gimana biar Mama ga marah aja, biar Mama ga repot dsb. Sebagai anak pertama, sepertinya saya ‘dituntut’ untuk sayang adik, jaga adik etc. Dan memang ‘fasbel’ Mama seperti ini, bekerja banget. Di saat anak-anak lain bisa bertengkar, rebutan sama saudaranya sendiri * ho oh seperti ketika anak-anak saya pada rebutan, bertengkar ala anak-anak gitu deh* saya dan adik saya ga pernah melewati itu, sepanjang ingatan saya, saya ‘marah’ sama dia kalau dia bersikap ga baik sama Mama, itu aja.

Di situasi lain, saat anak-anak lain dipanggil untuk makan siang ketika asyik bermain, panggilan dari Mama tidak ada untuk kami *saya dan adik* sedih? Biasa aja sik, asyik malah kan yaa, ga dipanggil ‘cuma’ buat makan aja😀 . Dan ‘fasbel’ seperti ini yang bikin saya punya alarm sendiri tentang banyak hal, kalau lapar yaa makan, ga perlu orang lain untuk mengingatkan. Iyaaa, Mama bukan tipe ibu ‘rese’ yang suka ‘ganggu’ acara bermain saya😀

Begitu juga dengan bangun pagi. Jarak sekolah saya lumayan jauh, naik jemputan di jemput paling awal, naik angkot atau dianter Papa berangkat jam 5.30. ‘fasbel’ Mama membangunkan dengan satu panggilan saja😀 yang bikin saya bisa bangun sendiri, ga perlu orang lain untuk membangunkan. Ini bikin saya belajar untuk ga merepotkan orang lain.

Cerita saat remaja. Mama adalah ‘bemper’ sejati😀 . Jadi, kalau Mama tahu anaknya diapain sama orang lain, turun tangan langsung, bok. Bagi Mama, jangan ganggu anak gue wkwkwk. ‘fasbel’ Mama seperti ini, bikin saya usaha banget untuk nyelesain masalah sendiri, usaha banget untuk ga cerita sama Mama yang menurut saya, ‘bemper’ sejatinya akan keluar, nyari solusi sendiri, trial n error, yang pada akhirnya saya belajar menghadapi situasi sulit dan mencari solusi yang bikin saya nyaman. Jadi, di saat anak-anak lain bisa cerita tentang apa aja sama ibu nya, saya sudah belajar untuk memilah-milah mana yang perlu diceritakan dan mana yang ga perlu diceritakan pada orang lain.

Di situasi lain, ga masalah bagi Mama buat nemenin anak-anaknya nonton di bioskop, atau nungguin-jemput anaknya pulang abis jalan-jalan sama teman-temannya *karena SMP-SMA lebih jauh lagi jaraknya dari rumah, Mama biasanya nungguin/jemput di salah satu rumah teman saya* . ‘fasbel’ Mama seperti ini bikin ga ada jarak antara ibu dan anak , iya meski galak, Mama tuh tipe ibu yang asyik banget buat seneng-seneng😀 . Hal ini yang membuat saya belajar bagaimana menjadi ‘teman’ untuk anak-anak saya tanpa ada jarak.

Cerita saat dewasa. Mama adalah kamus. Tumbuh dengan berbagai perbedaan yang ada akhirnya membuat ‘kami’ saling menyadari, here we are. Pada titik ini, saya belajar, [ga masalah ketika anakmu tidak meminta pendapatmu (menjadi kamus) di masa ini, kelak, suatu saat, dia akan sendiri meminta pendapatmu dan kalaupun tidak, dia akan belajar darimu bagaimana dirimu bisa melalui tiap peristiwa yang ada]

Setidaknya itu yang terjadi pada saya dan Mama. Dulu, mungkin saya jarang menjadikan beliau sebagai kamus, karena ada Papa yang selalu saya mintakan pendapatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya banyak belajar dari Mama tentang bagaimana melewati berbagai macam peristiwa yang ada. Juga tempat bertanya untuk hal-hal kecil yang mungkin dulu tak terpikirkan oleh saya.

Apapun yang sudah saya lakukan, menyenangkan atau menyakiti hatinya, Mama selalu ada untuk saya. Mama, cinta tanpa akhir. Cinta yang selalu mekar. Dalam suka dan dukanya, senang dan sedihnya, maupun marahnya, ada cinta yang terus mengalir. Cinta yang terus ada sampai kapanpun.

I love u full, Maaaa :’) *pelulpelukMama*

6 thoughts on “Mama, Fasbel Terbaikku..

    • umnad says:

      😀 sama koq, di sini juga ga bisa sekali panggil, akhirnya bikin kesepakatan aja sama mereka..

      beda ortu beda anak juga keknya klo itu re:tanya resep *tidak berlaku untuk tiap anak n ortu*😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s