Jadi Teladan..

Di milis Parenthink beberapa waktu yang lalu ada email dari mba Yuli yang nurut saya, ngena! banget😀

“Mau anaknya’ngapa2in’,ortunya yang perlu kasih teladan”

Jadi inget kisah kenapa para Nabi yang diturunkan Alloh di muka bumi adalah manusia, bukan malaikat, karena untuk jadi teladan. Dalam agama Islam, Nabi Muhammad SAW adalah teladan umatNya. Dalam Al-Qur’an beliau mendapatkan sebutan “Uswatun Hasanah” (suri tauladan yang baik). Apa yang diturunkan Alloh padanya, beliau terlebih dahulu melakukannya untuk menjadi contoh sahabat-sahabatnya saat itu, yang kemudian sampai hingga saat ini melalui apa yang disebut dengan sunnah (segala sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah menjalani hidupnya yang terangkum di dalam kumpulan hadits).

Di dalam keluarga, mengasuh dan mendidik anak juga sama. Pada tau kan klo anak-anak itu peniru ulung, children see children do. Jadi, apa yang kita lakuin secara sadar dan ga sadar, anak kadang menirukannya.

Mau anak ga suka marah-marah, yaah ortu jangan suka marah-marah juga sik. Mau anak berkata lemah lembut, yaa ortunya juga berkata lemah lembut dunk yaa.😀

Jadi, as Mba Yuli said “Mau anaknya’ngapa2in’,ortunya yang perlu kasih teladan” ngena banget kan, kan..

Kalau saya, sudah mulai belajar jadi teladan di awal tahun ini. Di mulai dengan stop bel bawel. Coba deh tanya sama diri sendiri, suka ga sik kalau dibawelin, kalau jawabannya ga suka, yaa tandanya mulai untuk ga bawelin orang, terutama anak-anak. Anak-anak yang sambungan otaknya belum sempurna, lebih baik jika yang digunakan adalah kalimat-kalimat yang singkat dan jelas.

Duluuu, biasanya “kan udah Ummi bilangin, kalau pulang sekolah, tas taro’ di kamar, ganti baju, baju kotornya taro di belakang…bla bla bla bla bla…”😀 *nyerocoooosss teruuus-tiap hari begitu-ga capek?bangeeet*

Yang dilakuin anak biasanya “Ummii jadi mau aku lakuin yang mana” sambil ngeloyor ngelakuin kalimat yang awal atau akhir aja😀

Sekaraaaaaang, bikin kesepakatan, apa sik yang perlu dilakukan setelah pulang sekolah, konsekuensi apa sik kalau misal tidak dilakukan. Hasilnya, No Bawelll😀

Kalaupun seesekali bel bunyi, tapi dengan kalimat untuk mereka berpikir “kalau pulang sekolah, gimana yaaa?” atau “mau ummi yang naro atau kalian sendiri” *kalau ummi yang naro’, naro’nya di luar soale, hasil kesepakatan*

Setelah stop bel bawel, mulai untuk belajar kecewa. Ga cuma anak yang perlu belajar kecewa, ortu pun demikian. Belajar kecewa dengan apa yang anak lakukan, menghadapi anak. Terus dirasain deh, direnungin, apa iya mereka, anak-anak, yang baru aja mengenal dunia ‘wajar’ kalau kita tuntut untuk bisa ‘berjalan’ seperti ‘jalan’ kita, ‘berlari’ seperti ‘lari’ kita yang sudah mengenal dunia jaaauuuuh lebih lama dibanding mereka. Semua butuh proses hingga kita, ortu, bisa seperti sekarang ini, begitu juga dengan anak-anak, mereka sedang berproses menjadi manusia dewasa, dan tugas kita yang memfasilitasi proses belajar tersebut.

Belajar kecewa misal dengan “mau rumah rapih atau rumah berantakan” rumah rapih karena anak makan disuapin, tapi anak jadi tergantung sama orang lain, rumah berantakan karena anak makan sendiri, tapi anak belajar macam-macam dari makan sendiri tersebut.

“mau anak cepetan atau lama” mau cepet, pakein aja kaoskakinya, tapi anak jadi tergantung sama orang lain, kalau anak pakai kaoskakinya sendiri, iya lama *butuh waktu sekitar 7 menit*, tapi anak belajar macam-macam juga dari pakai kaos kaki sendiri itu.

“mau anak nurut atau mandiri” anak nurut, keputusan ada pada orang lain, anak mandiri, keputusan ada pada diri dia sendiri. Kita pilih mau punya anak yang keputusannya ada pada siapa.

Daaan masih banyak belajar kecewa yang perlu dihadapi kita sebagai ortu. Untuk menjadi teladan, anak dapat melihat bagaimana kita melewati rasa kecewa yang ada dengan aman.

Selain itu, teladan melalui ‘perdagangan’. Kadang kita suka ngerasa anak koq susah banget diaturnya, disuruhnya, ini karena terkadang sebagai ortu, kita suka ‘ogah bayar’ sama anak. Anak mau sesuatu, ada usaha mereka untuk mendapatkannya. Lha kalau ortu yang punya mau, yang ada usaha ‘maksa’ anak buat ngelakuinnya, atas dasar ‘saya adalah ortumu’😀 . Tanya lagi sama diri sendiri, suka ga sik kalau diperlakuin kaya gitu, seperti yang kita lakuin ke anak dengan usaha ‘maksa’ itu. Kalau jawabannya ga suka, saatnya mulai untuk ‘bayar dunk-usaha dunk’ untuk mendapatkan yang kita mau. Lihat siapa yang lagi butuh.

Misal, saya perlu kakak untuk mengambilkan jemuran yang sudah kering di luar, “iya, tapi nanti aku dapet tambahan main tablet 10 menit yaaa”, dia tahu tambahan waktu 10 menit itu harga buat saya, karena anak-anak sudah dapat waktu main tablet 15menit/hari. Karena memang saya yang butuh, saya yang bayar, deal tambahan waktu 10 menit. Daan biasanya niiiy, anak yang lain akan bertanya “terus kalau mau dapat 10 menit juga kya kakak, aku harus apa, Miii” hihihihi

Khawatir ah, nanti anak jadi perhitungan sama ortu. Kalau ada kekhawatiran seperti itu, direnungin, mungkin kita sebagai ortu sedang meneladani ‘perhitungan’ sama anak *kalem* . Kalau saya, sedang mau meneladani ‘mau anak punya hati, kita yang perlu punya hati sama anak’ ‘mau anak bisa berusaha, kita yang perlu bisa berusaha’. Meneladani ‘kasih ibu, hanya memberi‘ insya Alloh, memberi saja, percaya saja, anak pun kelak akan meneladani hal tersebut.

Jadii, Secure your own mask, before assisting others. Di pesawat, suka ada petunjuk dari pramugari jika terjadi apa-apa, para orang tua dahulu yang pasang oksigen baru memasangkan oksigen pada anak, atau sebelum menolong orang lain pastikan kita sudah tertolong terlebih dahulu. Sama dengan asuh didik anak juga. Memulai suatu perubahan yang lebih baik, dan bantu anak untuk melakukannya juga.

Lalu kemudian tersentil dengan ust@kupinang, “Teladan saja tidak cukup. Bukankah Nabi Luth dan Nabi Nuh ‘alaihimas salaam adalah sebaik-baik teladan bagi keluarganya?”

Jleb!! deh. Ada yang namanya ikhtiar, ada yang namanya doa. Menjadi teladan untuk anak-anak adalah usaha kita sebagai orang tua, itu perlu, dan terpenting adalah selalu disertai dengan doa, senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala perlindungan atas anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Juga atas diri kita.

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.Al Furqon : 74)

One thought on “Jadi Teladan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s