‘Filosofi Gendongan’

Setelah ‘love love melulu’ di beberapa postingan sebelumnya😀 sekarang mau bahas tentang gendongan..

Bukan aneka merk gendongan yaa, tapi bagaimana cara kita menggendong bayi, daan ini pikiran saya aja yaaa, silahkan kalau punya pemikiran lain.

Jadi ceritanya, karena beberapa waktu lalu dokter rehab medik Najma, dr.Sely di klinik Anakku, komentar tentang cara gendong saya, yang menurutnya, sebagai salah satu penyebab juga keterlambatan tumbuh kembang Najma.

Saya biasa menggendong Najma dengan gendong depan di mana Najma menghadap saya. Menurut beliau, saya harus menggantinya dengan menggendong depan juga tetapi Najma menghadap keluar. “biar dia melihat dunia luar, Maah..” “biar dia jadi lebih berani, dan ga tergantung Mama lagi..”

Huaaa mau nangis rasanya. Mau nangis karena saya seperti diingatkan harus segera kembali ke ‘jalan’ yang benar. Ntah sengaja atau ga, kondisi dengan lahir premature mungkin membuat saya juga suami tentunya ingin terus ‘mendekapnya’, yang akhirnya malah membuatnya merasa ‘nyaman-aman’ untuk ga berusaha lebih giat lagi dengan tumbuh kembangnya.

Mau ga mau jadi memunculkan pikiran tentang ‘filosofi gendongan’ ini, bener juga kata bu dokter. Di sini saya cumaa mau bahas 3 macam gendongan aja yaa😀

Gendongan bayi baru lahir, menopang tubuh mungilnya di buaian kita, mata saling menatap, berkomunikasi dengan berbagai macam ekspresi, saling mengenal satu sama lain “aku ibumu, dan kamu anakku” itu indah banget, melenyapkan segala sakit dan lelah..

Gendongan depan menghadap dalam, mendekapnya erat, mata masih saling menatap, begitu juga berbagai macam ekspresi untuk berkomunikasi dengannya, kini kita sudah mengenal lebih jauh “aku anakmu, dan kamu ibuku” itu indah banget, membuat makin erat mendekapnya..

Gendongan depan menghadap luar, saatnya tiba, membimbingnya melihat ‘dunia’, melihat berbagai macam bentuk dan rupa, warna dan suara, berkomunikasi dengan ‘mereka’, saling mengenal juga merasakan, kelak dia akan menantang ‘dunia’ nya untuk ga di simpan di hati nya, tapi di tangannya “nak, ibu insya Alloh selalu ada di sini..”

Dan tiba untuk saya dan suami membimbingnya melihat ‘dunia’, Najma bukan gadis mungil setahun lalu, dia sudah tumbuh dan berkembang. Kalau dipikir ini semua tentang bagaimana kesiapan juga kerelaan kami sebagai orang tua, ‘melepaskan’ anaknya untuk melihat ‘dunia’.

So faar, setelah mengganti cara gendong dengan menghadapkannya keluar, yup Najma terlihat sangat menikmatinya, melihat ‘dunia’ ke segala penjuru

“iya Ma, dunia bukan Ummi saja koq” :’)

Semoga semuanya kembali berjalan lancar dan mudah, aamiin

3 thoughts on “‘Filosofi Gendongan’

  1. Yoanna Fayza says:

    Nice article mba.. jadi inget jaman2 masih gendong anakku kmn2, skrg udah ga pernah mau digendong lagi padahal Bundanya msh suka kangen pgn gendong2.. Salam kenal yaa..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s