Pastikan Kita, Selamanya..

Alhamdulillah, Barokalloh, 14 September 2013 ini pelayaran kami memasuki tahun ke 10.

10 tahun itu bukan waktu yang lama, setidaknya itu yang saya rasakan. Kami menikah melalui sebuah proses ta’aruf, tidak pacaran sebelumnya. Meski suami adalah kakak kelas saya di kampus, tapi ini di luar bayangan saya jika ternyata saya akan berlayar dengannya di sisa umur saya😀

Apa yang ‘bisa’ diharapkan dari sebuah proses selama 3 bulan menuju lamaran, dan 10 hari menuju pernikahan, untuk pelayaran di sisa umur yang ada. Saat itu saya berumur 22 tahun dan suami 24 tahun. Tentu saja, bahagia selamanya😀 .

‘Bahagia’ bukan hanya untuk segala yang suka, namun juga untuk segala yang duka, dan itu semua terdapat di dalam satu paket yang namanya ‘bahagia’. Menikah bagi saya saat itu adalah melepaskan segala ego yang ada di dalam diri saya sendiri. Menikah bukan karenanya tapi karenaNya, that’s it! Dan, Alhamdulillah semua dilancarkan dan dimudahkan pada waktu itu.

Namun, mudah di awal bukan berarti mudah untuk selanjutnya. Menikah dengan seseorang yang ‘baru’ dikenal selama 4 bulan, jatuh bangun pastinya, mentok di mana-mana, buku nikah sudah di tangan, tanggung jawab dari ayah sudah berganti dengannya, yah, saya sudah jadi tanggung jawabnya, there’s no way out😀

Sabtu, 30 Maret 2013, kemarin, ngikutin livetweet nya @mommiesdaily yang lagi mengadakan seminar “keys to happy marriage”. Berasa diingatkan kembali tentang sebuah pernikahan.

Bagi saya, memasuki 10 tahun, pernikahan kami memiliki 2 masa, masa sendiri dan masa bersama. Masa sendiri adalah masa menata diri sendiri, pasangan kita adalah bagaimana kita. Jadi, kalau mau pasangan baik yah kita nya harus baik juga. Sedangkan masa bersama adalah masa saling ‘berpegang tangan’ J . Pelayaran tak hanya menikmati ayunan ombak di lautan tapi juga menikmati badai yang menerpa. Jadi, ‘berpegang tangan’ menikmati apapun keadaanya.

Masa sendiri adalah masa menata diri sendiri, menata hati, khususnya. Banyak yang berubah setelah saya menikah. Dan itu sesungguhnya adalah sangat diluar impian dan keinginan saya tentang suatu pernikahan.

Setahun pertama bagi saya adalah tenggelam. Saya seperti menghilang ntah kemana. Orang-orang yang mengenal saya, menarik diri dari keinginannya semula tentang pernikahan dini. Mereka menganggap menikah adalah memutuskan segala potensi diri yang harusnya bisa berkembang. Memotong kuncup bunga yang harusnya bisa menjadi bunga indah. Namun, saya tidak mau rasa tenggelam ini berlarut begitu lama, jadi saya mencoba untuk memperbaiki cara pandang yang ada dari tenggelam menjadi menyelam. Menyelam, tidak tenggelam, sesekali muncul ke permukaan untuk mencari udara, dan itulah saya. Bagi saya, dengan mengubah cara pandang tersebut saya menjadi lebih ‘bebas’, tetap bisa ke sana dan ke sini, tidak terlihat memang tapi saya menikmatinya. Ketika ini ‘bisa’ dilalui, pandangan seakan kembali jernih, kami mencoba untuk saling mengerti apa yang menjadi kebutuhan kami.

Menata diri selanjutnya adalah tentang keluarga besar. Menjadi adil seperti yang mereka mau adalah airmata untuk saya. Jadi, 4 tahun selanjutnya adalah airmata. Saya begitu rapuh, tidak bisa berbuat apa-apa, dan lagi-lagi ini adalah ‘masalah’ saya hingga saya yang harus bisa menatanya, memperbaikinya. Meyakinkan diri sendiri jika ini adalah tentang keluarga kami bukan mereka, kami ‘harus’ bisa memutuskan segala sesuatu yang ‘penting’ untuk kami. Bagi saya dengan meyakinkan diri sendiri, saya jadi memiliki energy untuk bisa berbuat sesuatu. Ketika ini ‘bisa’ dilalui, lapang begitu terasa, kami mencoba untuk saling mengerti apa yang penting bagi kami.

Pasangan kita adalah bagaimana kita, dan ini bukan tentang balas jasa atau harap kembali untuk segala yang telah kita lakukan, untuk segala perubahan yang telah kita lalui. Ini tentang memberi, ini tentang untuk menjadi diri yang lebih baik, menjadi pasangan yang baik untuknya. We do first, and let’s Alloh do the rest

Masa bersama adalah masa saling ‘berpegang tangan’. Masa dimana masa sendiri sudah ‘kokoh’, jadi bukan lagi tentang masalah saya, tapi ini adalah masalah kami.

Jadi, 5 tahun selanjutnya adalah masa kami ‘berpegang tangan’, saling menguatkan satu sama lain. Saya tidak bilang berbagai masalah yang kami lalui di 5 tahun terakhir ini sangat mudah, bisa di bilang sangat berat malah (untuk sebagian orang), namun percaya, Alloh ga akan ngasih sesuatu di luar kemampuan kita sebagai makhlukNya. Termasuk masalah terberat terakhir yang kami lalui adalah kelahiran anak ke empat kami, di Ramadhan tahun lalu.

Masa bersama ini adalah masa dimana saya lebih ‘santai’ mengungkapkan apa yang saya rasakan, pikirkan, juga inginkan, begitu juga dengan dirinya. Meski ego saya, khususnya masih ada untuk selalu diperhatikan, namun perlahan saya bisa menghadapinya dengan tidak meledak-ledak dan penuh airmata. Saya makin menyadari, komunikasi adalah hal terpenting dari sebuah pelayaran panjang ini. Ketika ini ‘bisa’ dilalui, kami saling meyakinkan untuk selalu ‘siap’ di tahap selanjutnya.

‘berpegangan tangan’ makin erat. Ga tau di depan sana ada apa aja, tapi pastikan kita, selamanya.

3 thoughts on “Pastikan Kita, Selamanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s