“Kenapa Nggak..?”

“kenapa nggak..?” adalah jawaban dari sebuah pertanyaan “kenapa..?” dan sebuah pertanyaan “kenapa..?” kalau sudah di jawab dengan “kenapa nggak..?” percaya deh bakalan speechless juga jawab baliknya😀

Daaaan ini sering banget kan yaa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau saya, segala kejadian di rumah bersama anak-anak. Segala tingkah laku anak yang mengundang kalimat tanya “kenapa..?”

“kakaaaak, kenapa sik susah banget dibanguninnya?”

“abaaang, kenapa baju kotor banget iniiii?”

“Husaiiiin, kenapa susu bisa tumpaaah?

“Najmaaa, kenapa sik koq nenen teruuus dari tadiiii?”

Ato ” Abiiii, kenapa klo di WA lama banget balesnyaaaa?”

Akhirnyaaaa sang ibu stresss dan berubah jadi singaaa😀

klo direkam seharian, ntah ada berapa kalimat tanya “kenapa..?” ada di rumah saya dan keluar dari mulut saya😀 . Tapi (mungkin) itu dulu, sekarang sedang proses meminimalisir hal tersebut. Daripada ‘pusing’ sendiri dengan hal yang sudah terjadi lebih baik mengganti kalimat tanya “kenapa..?” dengan “terus bagimana..?” “selanjutnyaa..?” yaa apapun yang menandakan “what’s next..?”

Kalau kata Om Ge (Pak Toge Aprilianto) di milis kemarin, urus dulu yang menjadi tanggung jawab, evaluasi belakangan dan cuma dilakuin jika perlu, klo ga perlu ya udah, ga perlu ributin tentang kenapa

Jleb!!bangeeet😥 jadii, untuk mengganti kalimat tanya di atas yang biasa saya lakukan dulu..

“Kak, terus gimana niy kalau jemputan sudah datang..?” biasanya kakak akan jawab

“ya udah Mi, aku naik ojek..”

“boleh naik ojek, bayar sendiri, kalau ummi yang bayarin naik angkot, pilih mana..”

See, jadi fasbel (fasilitas belajar) anak tuh musti tega kya gini *kompakkin ati-kepala*..

“Bang, terus gimana bajunya niy..?”

“ya udah Mi, aku yang sikatin deh..”

“boleh, kalau belum bersih boleh ummi bantu buat nyikatinnya lagi..”

See, jadi fasbel anak tuh musti tahan ‘gatel’ untuk ga ambil alih *tahan..tahan*

“truz klo ada yang tumpah gimana Sain..”

“di lap Mii..” *jalan, ambil kanebo truz di lap*

“Oke..”

*emaknya nahan diri untuk ga bawel karena ‘sebenarnya’ tambah becek dan lengket :D*

Pengecualian untuk bapake, there’s no fasbel untuk suami😀 *istriposesif*

Daaan selama urusan tanggung jawab berjalan lancar, ga perlu lagi urusan kenapa di bahas lagi, kecuali jika memang perlu untuk evaluasi.

Jadiii, ngerti kan kenapa anak milih diem aja klo ditanya “kenapa..?” karena klo di jawab “kenapa nggak..?” sama dia, dia tau ibunya akan murkaaa wkwkwkwk *jadi yang pengertian di sini anak ato ibu nya yaa*

Hyuuuk belajar lagiiii!!🙂

4 thoughts on ““Kenapa Nggak..?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s