Kasih Ibu, Hanya Memberi

Kasih Ibu, kepada beta

Tak terhigga, sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya, menyinari dunia

Lagu yang bikin hati meleleh ga sik..Kasih Ibu, hanya memberi. That’s it!!

Simple, sederhana. Kelihatannya. Tapi coba deh lakuin T_T.

‘hanya memberi’ tuh seperti apa? Seperti matahari, sang surya, menyinari dunia. Ga peduli makhluk di dunia seperti apa perilakunya, bentuknya, ‘tugas’nya yaaa menyinari dunia. Sesekali tertutup awan, tapi ga bikin sang surya enggan bersinar.

Begitu pula kasih ibu, hanya memberi. ‘tugas’nya yaaa memberi kasihnya pada anak-anaknya, ga peduli mau seperti apa anaknya. Memberi kasihnya untuk menjadi ‘tempat’ belajar anak-anaknya, pernah kan denger ibu itu madrasah.

Hanya memberi, tak harap kembali. Pada suatu titik, saya pernah merasa jadi ibu yang ga akan dianggap sama anak-anak saya kelak karena melahirkan secara operasi, semuanya. Namun, akhirnya saya berpikir ulang, setelah saya tau – saat ini, mungkin saat itu energinya saya masih meminta, sehingga saya merasa ‘sebegitu’ putus asa nya😀 . Karena ‘lelah’ dengan perasaan yang ga jelas kya gitu, akhirnya memutuskan saya untuk berpikir ulang.

“klo ga dianggap sama anak-anak, terus kenapa? Ada masalah?”

“klo anak-anak jadi ga sayang karena saya melahirkan secara operasi, terus kenapa?”

‘tugas’ saya memberi saja, mengandung dan melahirkan mereka. Normal atau operasi adalah cara ‘mengeluarkan’ mereka dari rahim saya dengan selamat dengan izinNya. ‘berharap’ dianggap dan disayang mereka adalah energy ‘harap kembali’ – meminta, yang menyesakkan untuk saya. Jadi, dengan energy ‘tanpa harap kembali’ – memberi, semua menjadi lebih lapang, menjadi lebih indah. Sekarang, ‘bekas’ operasi adalah hal yang paling mereka pengen liaaat teruss😀 .

“Ummiii, aku mau liat ‘bekas’ operasinya..”

“aku dulu keluarnya dari sini, Mi…”

“aku muat Mi, dulu..”

Dan celoteh mereka adalah hal yang tak pernah saya ‘minta’ yang bisa menjadi ‘cerita’ indah tentang mereka ketika bercerita darimana mereka ‘dikeluarkan’😀 .

Cerita lain, beberapa waktu yang lalu, saya mengucapkan terima kasih sama suami tercintah, karena dia sudah ‘menemani’ Hasan menyelesaikan tugasnya, ngeprint, daaan yang bikin saya ‘terimakasih’ banget adalah ketika suami mengembalikan printernya ke tempatnya semula #happyissimple . Saya kemanah? Tiduuuur😀

Jadi via sms saya bilang “terima kasih yaaa, Cintaaaa..” truz dijawab dunk sama suami “Iyaaa, tapi Ummi jangan nangis yaaah, liat kegiatan Hasan setelah abis maghrib apaaa..”😀 sebelumnya saya memang sudah liat kegiatan Hasan setelah maghrib itu apa, “bermain bersama abi…”

Nyeeeessss!! Bukannya ‘sedih’ but I looooove it😀 so sms tersebut langsung saya jawab “tentu saja tidaaak, Cintaa..tiap anak emang selalu punya kenangannya tersendiri sama ayahnya, daaan saat ini kita sedang membuatnya..”

Klo mau ‘marah’ sik bisa aja, secara di jadwal kegiatan itu ga ada ‘bermain bersama Ummi’😀 tapi apa itu penting ketika energy ‘tak harap kembali’ – memberi yang kita kasih untuk anak-anak kita setiap saat.

Jadi, siapa yang masih ‘khawatir’ anaknya jadi lebih dekat sama ayahnya ketika kita (ibu) cuek lahir batin ketika menjadi fasilitas belajar anak, hyuuuk liat lagi energy nya apah, meminta atau memberi, ‘harap kembali’ atau ‘tak harap kembali’.

Kasih ibu, hanya memberi. That’s it !! #happyissimple

4 thoughts on “Kasih Ibu, Hanya Memberi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s