Sepucuk Surat (bukan) Dariku

Yang kutahu, aku selalu mengantarkan surat ini untuknya. Sepucuk surat (bukan) dariku. Aku menunggunya untuk membuka kemudian membacanya. Setelah itu baru aku berlalu.

Biasanya ia meremasnya setelah membaca surat yang kuantar ini, meski kemudian ia memungutnya kembali. Kadang aku berlalu dengan penuh tanda tanya, namun cepat kutepis segala tanya yang ada.

Pernah aku mengantarkan sepucuk surat (bukan) dariku ini kepadanya. Ia membuka dan membacanya, rautnya berubah, begitu kesal juga marah sambil meremasnya keras-keras. Aku segera berlalu karena tak mau kalau-kalau nanti aku jadi sasaran marahnya.

Kali lain aku mengantarkannya lagi padanya. Reaksinya tidak seperti yang lalu, hanya hela nafas darinya. Aah rasanya hidupnya begitu berat setelah menerima sepucuk surat (bukan) dariku yang kuantarkan selalu padanya.

Namun, hari ini begitu berbeda. Setelah kuserahkan surat ini padanya, kemudian dibuka dan dibacanya. “YESSSSS!!!” serunya penuh haru biru. Ini kali pertamanya ia menunjukkan ekspresi gembira seperti ini setelah menerima surat yang kuantar untuknya. Dia berlari, tanpa meremas suratnya.

Dan sekilas kulihat tulisan “TOTAL TAGIHAN BARU Rp 0,-” tak tahan, aku ikut tersenyum dan berlalu.

noted : tulisan ini buat ikutan #15HariNgeblogFF day 7 , infonya bisa dilihat di sini

4 thoughts on “Sepucuk Surat (bukan) Dariku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s