Pembiasaan dan Pemahaman

Suatu ketika, jauh sebelum menikah apalagi punya anak. Tapi dasar, omongannya ga jauh dari tentang anak.😀

Saya pernah membahas tentang ‘jilbab’ dengan seorang sahabat.

“Seandainya kelak setelah menikah kemudian dikaruniai anak perempuan, baiknya dipakaikan jilbab sedari kecil atau kya gw gini, biar dia cari-cari tahu sendiri aja” tanya saya

“kalau gw, dipakein dari kecil. Dibiasakan. Kita ga pernah tahu anak kita akan seperti apa. Iya kalau dia cari-cari tahu sendiri, kalau ga’?!” jawabnya.

Percakapan beralih ke topic lain. Dengan ‘pesan’ percakapan ini adalah pembiasaan .

Bertahun-tahun kemudian*tsaaa lebay😀 * saya menikah dan Alhamdulillah dikaruniai anak pertama, perempuan. Alhamdulillah, tanpa direncanakan ternyata kami*saya dan suami*memiliki persamaan dalam hal pembiasaan ini. Jadilah sebelum anak lahir dan tahu berjenis kelamin perempuan, mulai hunting jilbab-jilbab kecil yang lucu imut banged yaa bentuknya :p . Dan ketika anak pertama kami lahir, Nadia, dimulai-lah pembiasaan ini..

Taraaa..ini Nadia baru lahir😀 sekarang udaaah gede, jarang banged mau di foto, maunya dia yang moto. Awalnya, memang banyak yang komentar sik..”kasihan masih kecil..” “ga gerah tuh..” dsb biasanya dijawab pake senyum manis aja😀

Pembiasaan ini teruz berlanjut, tiap keluar atau pergi, Nadia selalu dipakaikan jilbab. Dalam pencarian sekolah juga begitu, mulai play group hingga SD. Salah satu hal yang saya tekankan adalah tentang pemakaian jiilbab. Alhamdulillah sekolah-sekolah yang dituju memiliki pembiasaan yang sama.

Pembiasaan menjadi ‘zona’ aman bagi saya khususnya, hingga suatu ketika saya merasa ada yang kurang dalam hal pembiasaan ini.

Ini dikarenakan keponakan-keponakan saya dari pihak suami beranjak ‘dewasa’. Mereka sudah baligh, sehingga hukum menutup aurat menjadi wajib. Dua gadis remaja ini, seingat saya tidak melewati ‘fase’ pembiasaan yang sedang saya lakukan pada Nadia. Orang tua mereka tidak melakukan pembiasaan yang saya lakukan sebelum baligh tiba..

Namun, ketika baligh tiba pada dua gadis remaja ini. Ada perbedaan yang akhirnya menjadi catatan penting untuk saya jadikan pelajaran juga pengalaman. Keponakan 1, lebih dulu baligh, dari kecil sekolah di sekolah islam, tapi pakai jilbabnya masih selalu diingatkan. Kalau bepergian, kalau tiba di tujuan aja pakai jilbabnya. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu dan pendewasaan dirinya sekarang lebih rapih dan tambah cantik🙂 . Keponakan 2, baligh kemudian, sama, dari kecil sekolah di sekolah islam, Subhanalloh pakai jilbab-nya ‘konsisten’ aja gitu. Rasanya saya ga pernah liat lagi rambutnya yang terurai. Semakin cantik🙂 .

Dari sini kemudian saya simpulkan, pembiasaan ‘mungkin’ penting tapi yang lebih penting dari itu semua adalah pemahaman tentang menutup aurat bagi seorang perempuan yang sudah baligh.

Mau ga mau, saya seperti memulai dari awal lagi untuk membangun pemahaman pada anak perempuan saya, Nadia. Setidaknya dia tahu, perempuan memakai jilbab itu hukumnya wajib. Pemahaman kapan baligh tiba, karena pada saat itu hukum wajib sudah jatuh pada seorang perempuan. Biasanya pemahaman ini saya bicarakan menjelang waktu tidur. So far, Alhamdulillah berjalan baik dan dipahami olehnya. Dan saya selalu berharap indah ketika waktunya tiba🙂 .

Pembiasaan dan pemahaman ga berlaku hanya dalam pemakaian jilbab, namun juga dalam hal-hal lainnya seperti sholat dsb.

Semoga dengan penerapan pembiasaan dan pemahaman terhadap sesuatu hal anak jauh lebih siap. Aamiin.

6 thoughts on “Pembiasaan dan Pemahaman

  1. astri hapsari says:

    sepokat mbak
    memang anak2 perlu diberi pemahaman dari lahir
    biar gak kayak emaknya udah gede baru sadar pake jilbab
    sering denger komentar katanya kasian anak kecil dijilbabin
    padahal kalo panas kan kita gak paksa ya
    tapi dikasi pemahaman dikit2

  2. celotehsiboenda says:

    Aira belum aq pakein jilbab mba hehehe euforia liat rambutnya yg kriting gantung *nasib punya rambut lurus* bapake juga ga setuju kalo dari bayi anaknya dijilbabin.. tapi aq spakat perihal pembiasaan harus sjalan dengan membangun pemahaman dlm level yg anak bisa terima

    • umnad says:

      waaa akupun senang liat anak kcil kriwil *nasibpunyaanaklurussemuakyabapake* :p

      mmg dikembalikan pd orgtuanya juga, yg tau ttg anak2nya :p
      klo nurutku anak kecil lbh bisa nerima dalam hal pembiasaan n pemahaman ini..karena klo udah besar dikit pasti deh ‘argumentasi’ nya banyak bener😀 lha wong Nadia yg udah dibiasain aja klo lg dtg ‘keras’nya lama bener ‘diskusi’ dl smua ditanyain knapa bgini knapa bgitu , pdhal dia jg tahu alasannya knp..;p

  3. della marianka masrah says:

    sepaham…

    syasya sudah dibiasakan pakai jilbab sejak usia 2m. .sosialisasi ttg haid juga sudah dimulai..itupun krn dia bertanya kenapa mommy ga sholat?? jadi seiring dengan sosialisasi haid, masuk juga sosialisasi fase akil baligh sampai wajibnya pakai jilbab saat akil baligh.. tentunya semua dalam bahasa dan penjelasan yg bisa dipahami pemikiran anak-anak.

    sekarang sih kalau pergi2, syasya ribut duluan nyariin jilbabnya. tapi kami ga pernah maksa dia buat pakai, dan kalau dijalan dia lepas juga kita biarin aja. soalnya belum wajib juga kan.

    kocaknya pernah suatu hari syasya ga pakai jilbab saat keluar rumah, ada tetangga yg tanya knp ga pakai jilbab. eh dia bilang “kan syasya masih anak-anak, masih boleh ga pk jilbab”

    hedeww…

    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s