Guru dan Murid..

Denger ceritanya Nadia(2SD) kbeberapa waktu yang lalu tentang guru dan teman-teman sekelasnya bikin kaget banget. Saya rasa guru zaman sekarang tantangannya lebih gede banget kali yaa -_-‘ .

 

“Murid-murid lagi rame banget, Mi..” cerita Nadia

“klo aku siy duduk diem gitu aja Mi..”lanjutnya lagi😀

“truz ibu guru bilang”anak-anak duduk yang rapih,ikutin ibu guru”anak-anak pada diem dan duduk rapih, Mi..”

“truz ibu guru bilang “buka buku halaman (brp gitu)” tau ga Mi,anak-anak smua ngikutin”buka buku halaman (brp gitu)..”ceritanya

“Hah, beneran itu, Na…kenapa?”tanya saya

“iyaaa Mi beneran..kaaan tadi bu guru bilang suruh ikutin bu guru, kata anak-anak gitu Mi..”jelasnya *pingsansaya*

“truzz kamu ga ikutan seperti itu kan Na..”selidik saya

“ikut Mi..”jawabnya *mukapolos*

“Ingeeet yaa sayang, besok-besok ga ada seperti itu lagi, guru itu gantinya orangtua di sekolah..dihormati dan disayangi..”jelas saya panjang..

Diiringi dengan *angguk-angguk* nya..

 

Ok, mungkin memang zaman udah berubah banget yaa cyiin. Jaman saya SD, rasanya ga ada yang berani kaya gitu di sekolah. *sigh*

 

Pas cari-cari file di laptop, eh nemu pembahasan tentang adab guru dan murid, saya lupa referensinya dari mana, mungkin kalau nanti ada yang tahu tolong saya diingatkan..

 

Murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak, namun ada sepuluh bagian yang terpenting, yaitu:

Pertama, mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelakan akhlaq dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Alloh. Seperti sholat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir, tidak sah kecuali dengan mensucikan yang zhahir dari hadats dan najis. Demikian pula dengan ibadah batin dan menyemarakkan hati dengan ilmu tidak sah kecuali kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan.

Allah berfirman, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzab:4)

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Bersikap tawadhu kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya.

Ali berkata, “Di antara hak seorang guru ialah, kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang dihadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika dia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Alloh, dan tidak duduk dihadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia.

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu.

Keenam, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus, tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting.

Ketujuh, hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya.

Kedelapan, hendaklah mengetahui factor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia.

Kesembilan, hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allahdan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin).

Kesepuluh, hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya.

 

Sedang tugas pembimbing dan pengajar, yaitu:

Pertama, belas kasih kepada murid dan memperlakukannya sebagai anak.

Kedua, meneladani Rasulullah saw dengan tidak meminta upah mengajar, tidak bertujuan mencari imbalan ataupun ucapan terimakasih, tetapi mengajar semata-mata karena Allah dan taqarrub kepadaNya.

Ketiga, tidak meninggalkan nasehat kepada murid sama sekali.

Keempat, mencegah murid dari akhlaq tercela, dengan cara tidak langsung dan terang-terangan sedapat mungkin, dan dengan kasih sayang bukan celaan.

Kelima, guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya. Sehingga seorang guru yang hanya menekuni satu ilmu harus memperluas wawasan murid pada orang lain, dan jika ia menekuni beberapa ilmu maka harus menjaga pentahapan dalam meningkatkan murid dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain.

Keenam, membatasi sesuai kemampuan pemahaman murid, tidak menyampaikan kepadanya apa yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya agar tidak membuatnya enggan atau memberatkan akalnya, karena meneladani Rasulullah.

Ketujuh, murid yang terbatas kemampuannya sebainya disampaikan kepadanya hal-hal yang jelas dan cocok dengannya, dan tidak disebutkan kepadanya bahwa di balik itu ada pendalaman yang tidak bisa disampaikan kepadanya, karena tindakan itu akan mengurangi minatnya terhadap hal-hal yang jelas tersebut, membuat hatinya guncang, dan mengesankan kebakhilan penyampaian ilmu terhadap dirinya, sebab setiap orang meyakini bahwa dirinya layak menerima ilmu yang mendalam.

Kedelapan, hendaknya guru melaksanakan ilmunya.

Guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, namun tidak ada tanda jasa yang lebih baik selain penghormatan kita pada dirinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s