Ketika Maut Menjemput

Kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput. Yang pasti semuanya sudah tertulis jelas dalam ‘skenario’ indahNya.

1 minggu belakangan ini saya mendengar 2 berita kematian. Pertama, tentang ibu yang melahirkan ketiga bayi kembar 3-nya. Kedua, tentang kecelakaan mobil setelah SOTR (Sahur on The Road) SMU 28 yang mengakibatkan dua orang teman sekelas adik saya yang meninggal.

*sigh* kejadian ini terasa dekat dengan saya. Pertama, tentang ibu yang melahirkan ketiga bayi kembar 3-nya. I’m a mother! Saya pun mungkin akan melahirkan juga kelak *for the next baby* . Perjuangan seorang ibu salah satunya ketika melahirkan. Dan tiap ibu yang melahirkan pastinya mempunyai resiko yang berbeda-beda, ga peduli dia mau melahirkan secara normal ataupun operasi yaaa..*saya paling ga suka istilah “situ ceasar sini normal, situ enak sini sakit” what the* pastinya tiap ibu yang melahirkan melewati masa-masa ‘mengagumkan’ kehamilannya. Sama tuh ngerasain mual-enegnya, sama tuh bawa sang janin di kandungan kemana-mana, etc. Yup,, kita melewati masa-masa yang ‘mengagumkan’ itu yang membedakan hanya jalan keluarnya bayi ketika lahir ke dunia ini.

Jadi ketika mendengar berita ini, ikut sedih juga. Tadinya cuma ‘biasa’ aja pas denger pertama kali, namun akhirnya sukses nangis pas baca  surat yang ditulis ma suaminya di FB T_T *sambilmikirsuamigwbakalankehilangankayaginigayaa*. Setiap melahirkan, mau masuk ruang operasi, saya selalu berusaha untuk minta maaf ke suami, mama, emak..selebihnya titip ma mereka aja. Karena saya benar-benar ga tau apa yang akan terjadi setelahnya. Suka dunk denger berita “ibu melahirkan operasi tidak sadarkan diri..” weeks saya sering parno dengan berita-berita yang seperti ini *seeee, ibu melahirkan secara operasi juga ada resiko..we are the same, you know..have a risk!* jadi ini yang senantiasa mendorong saya untuk meninggalkan berbagai macam ‘wasiat’ terutama pada suami tercintah..dari mulai jaga anak-anak yang baik sampai membolehkannya untuk menikah lagi, asal dia sholihah dan baik dengan anak-anak saya juga suami tentunya.

>>ga takut anak-anak melupakan dirimu, kalau misal suami menikah lagi<<hiiiy *takut* but for what, toh saya udah ga di dunia lagi jadi juga ga tahu mereka lupa dengan saya atau ga *nyengir* yang jelas saya yakin orang-orang disekitar saya kelak akan selalu mengingatkan mereka tentang ibunya, saya. Adapun blog ini sebagai cerita tentang saya untuk mereka mengetahui tentang saya. Daan yang terpenting tiap saat selama saya hidup, saya selalu berkata pada mereka untuk menjadi anak yang sholih dan sholihah serta selalu mendoakan saya ketika saya hidup, lebih-lebih jika saya sudah ga ada lagi..ini penting banget, karena saya ga tahu amal atau ilmu saya yang mana yang senantiasa menemani saya kelak, jadi saya membutuhkan doa dari anak-anak yang sholih-sholihah untuk menemani saya kelak..Amiin.

Kedua, tentang kecelakaan mobil setelah SOTR (Sahur on The Road) SMU 28 yang mengakibatkan dua orang teman sekelas adik saya yang meninggal. Ini semua tentang takdir. Supir mobil tersebut adalah teman adik laki-laki saya, daaan biasanya adik saya sering ikut dalam mobil tersebut. Namun, pagi itu karena teman adik saya ber’tugas’ untuk mengantar teman-teman perempuannya jadi adik saya ga ikut dalam mobil tersebut. Tentu saja hal ini membuat Mama saya sedih dan menangis, membayangkan jika hal buruk terjadi pada adik saya, begitu juga pula adik saya. Kata Mama, dia sedikit trauma akan kejadian yang menimpa teman-teman sekelasnya juga sahabatnya itu. Dalam status di twitter-nya juga dia menuliskan “trauma secara tidak langsung”.

*sigh* waktu SMP, ada kakak kelas yang mengalami kecelakaan motor dan meninggal. Dan itu masih terekam jelas dalam memori saya yang hubungannya hanya sekedar adik kelas saja yang sekedar tahu namanya saja. Karena apa, karena pagi harinya saya sempat melihatnya dengan motornya, iya ngebut. Daan siangnya mendapat kabar dia meninggal kecelakaan motor, kepalanya baru saja dibotakkin-plontos. Sejak itu saya menyadari kalau mati itu bukan hanya monopoli milik orang-orang tua yang sudah renta juga jompo, tapi milik siapa saja. It could be happened to anyone.

Dan saat ini terjadi pada adik saya. Pastinya dia-pun punya memori tersendiri tentang teman-temannya itu. Dalam suatu curhatnya, dia menanyakan bagaimana nasib sahabatnya kedepan yang kini telah menjadi tersangka karena kecelakaan tersebut. Sahabat adalah teman dalam suka juga duka. Sahabat bukan hanya mendukung tapi juga mengingatkan. Saya hanya berharap teman adik saya punya kekuatan untuk tetap menjalani hari-harinya, melewati waktunya dengan berdiri tegak, hidupnya mungkin akan tidak mudah namun bukan berarti tidak mudah untuk dilewati dengan berdiri tegak. Dan saya ingin adik saya bisa menjadi sahabatnya yang ‘membantu’nya melewati  semuanya untuk selalu berdiri tegak.

Dan jika saatnya tiba, saya hanya ingin meninggal dalam keadaan yang husnul khotimah. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s