Tiga Lelaki..

Ini cerita tentang tiga laki-laki. Beda usia. Beda zaman. Beda cerita dari cerita sang pendamping hidupnya (istri..)๐Ÿ˜€

Dalam sepenggal cerita pada suatu situasi yang berbeda..

Emak (mertua saya) : “anak-anak emak mah dulu ga’ ada yang berani makan kalau Bapak belum makan..”

Mama (ibu saya) : “Papa kue mah mana betah niy liat rumah berantakan gini. Ada juga semuanya malah dilempar-lemparin..”

Saya :๐Ÿ˜€ *ngakakdalamhati*

*sigh* karenaaaa itu semua tidak berlaku pada suami saya tercinta๐Ÿ˜€. Thanks to Alloh untuk segala semua ‘kemudahan’ ini. Suami saya adalah suami yang jauh dari gambaran tentang seorang suami yang diceritakan oleh 2 ibu hebat itu. Suami saya adalah orang terakhir yang makan (sisa dari anak-anaknya, bahkan malah tak kebagian *glek* padahal dia yang bela-beli lohh)๐Ÿ˜€ . Suami saya juga adalah orang yang paling sering merapikan semuanya ketika rumah berantakan lagi di malam hari, atau menurunkan barang-barang di mobil pinjaman setelah ‘jalan-jalan’ di akhir minggu๐Ÿ˜€ . Bukan itu saja, suami saya juga merelakan dirinya ‘terusir’ dari tempat tidur sehingga tidur beralaskan kasur tipis saja bahkan di lantai tanpa alas. Daan merelakan hal-hal lainnya untuk istri dan anak-anaknya.

Selain itu..dia juga tidak segan untuk membantu saya dalam hal lainnya. Memandikan anak, membuat sarapan, memeras pakain bekas ompol, you just name it. As a husband and a father he’s doing all that ‘stuff’๐Ÿ˜€ . how lucky me, I thought. *yangsinis-ihistrimacampulakkyagene* ;p

Anak-anak saya pernah di tanya ..”Nadia-Hasan, di rumah udah ada yang bantuin Ummi belum..” tanya saudara

“sudah..” jawab mereka

“siapa..?” tanya saudara lagi..

“Abiiiii..” kompak mereka menjawabnya..๐Ÿ˜€

Seseorang bahkan pernah menanyakan..”kamu kya gitu ma suami-mu, apa ibu(emak) ga jadi ‘sedih’ liat anak laki-lakinya melakukan semua itu. Orang jawa itu perempuannya memperlakukan suami bak raja lho..”

Saya hanya mesem-mesem saja. “oooo gitu yaa Mb, waduh duh dunk klo ibu ampe merasa sperti itu..mudah-mudahn aja ga gitu yaaa” *menantukyurangajyaar*๐Ÿ˜€

Don’t know yaaa, but I thought a husband also a father with his anger it’s so last century banget gitu loh *nyengir*..

Sejak awal, saya ingin membangun karakter sosok suami-ayah yang lebih ‘membumi’. Kita sudah menikah, kita sudah menjadi satu, sooo ga’ ada lagi yang namanya ini urusan Lo, ini urusan gw, tapi ini urusan kita bersama kecuali mencari nafkah yaa #eh *mintadilempar*๐Ÿ˜€ . Apalagi jika menyangkut anak-anak dan rumah tangga. It’s our obligation not only my responsible or your responsible.

Although he’s doing all that ‘stuff’, bukan berarti menjadikan diri-nya ‘rendah’ dimata saya ataupun anak-anak. Dia adalah qowwam dalam keluarga kami. Pemimpin kami. Nahkoda dalam pelayaran yang panjang ini. Suami juga ayah yang senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Suami juga ayah yang kata-katanya langsung di dengar saat itu juga๐Ÿ˜€ . Don’t know siy what he felt but I thought that’s heaven for him.

So far apa yang saya ingin bangun tentang karakter sosok suami-ayah so good. Tiada jarak antara ayah dan anak-anaknya. Juga antara saya dan suami. Daaan yang terpenting bagi saya dan yang selalu saya tekankan pada anak-anak saya adalah untuk selalu memudahkan dirinya. Sebagai pemimpin keluarga kami, kelak dia akan dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Tentu tanggungjawabnya sangat besar, dan sebagai seorang istri juga ibu dari anak-anak kami, saya selalu berusaha untuk menjadi istri yang ‘baik’ (nurut aja ma suami, selama itu tidak bertentangan dengan hukum Alloh dan sunnah RasulNya), begitu pula yang saya tekankan pada anak-anak.

Bagi saya, ‘masalah’nya sudah banyak, ‘tanggungjawab’nya lainnya juga banyak, jangan lagi ditambah dengan ‘tanggungjawab’ pada keluarganya yang kelak akan mempersulitnya di akhir nanti. Tugas saya dan anak-anak sebagai yang dipimpinnya adalah melancarkan dan memudahkan jalannya kelak di akhir nanti. That’s it, no compromise..

How we cannot love him so much. Dia adalah suami juga ayah yang memastikan bahwa keluarganya, anak-anak juga istrinya aman, nyaman, tentram, tercukupi segala kebutuhannya. Tidak duduk diam di ‘tahta’nya namun siap ‘turun’ kapan dan di mana saja. Kami bisa mengandalkan dirinya kapanpun kami mau tanpa keluh juga kesahnya..We love u, Abi *kisskiss* dan cukup Alloh yang membalas segalanya..

4 thoughts on “Tiga Lelaki..

  1. h.taufik says:

    betul beda jaman beda cerita, jaman sekarang, kalau ada bapak makan lebih dulu sebelum anak2 naya makan, itu namanya bapak kuno, ketinggalan jaman. kalau ada suami yang tak bantu istrinya beres2 rumah itu namanya suami tak mengerti emansipasi. Tapi saya juga mau nanya, istri apa namanya yang lebih suka berkeliaran di mall, dan disalon,? ketimbang nyiapin makan buat anak2nya yang pulang sekolah. Jaman sekrang istri macam itu makin banyak.

    • umnad says:

      yup, saya pikir suami-suami zaman sekarang lebih bisa diajak kerjasama..:)

      daan u/ptanyaannya, saya cm bisa *nyengir* aja, sy lbh suka u/tidak men’judge’ para ibu๐Ÿ™‚
      as my husband said, istri itu seorang manager, kl sgala sesuatunya bisa di delegasikan why not, yg terpenting dia sdh mlakukan tugasnya. kl nyiapin makan buat anak2nya yang pulang sekolah sdh di delegasikan pd org lain dgn ‘perintah’ darinya why not..kl ‘berkeliaran’ di mall dan salon adalah waktunya u/’me time’ why not juga๐Ÿ™‚..asal semuanya seizin suaminya, dan suaminya ridho, saya pikir sah-sah saja.

      kcuali jika apa yang dilakukan sang istri tak mdapatkan izin atau ridho suami mungkin itu yang namanya ‘masalah’..tugas suami adalah memimpin daan dia berhak u/mengingatkan istrinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s