*sigh..*

Yup, belum seminggu membaca buku Berbicara Agar Anak Mau Mendengar dan Mendengar Agar Anak Mau Bicara (BAAMM&MAAMB), buku ini sudah selesai dibaca. Tebal 320 halaman, ditemukan kejutan-kejutan dalam setiap halamannya. I’m not good enough as mother. Membaca buku ini, bikin ketawa/I sendiri karena dari contoh-contoh yang ada that’s so me bgt hahaha..

Membaca buku ini ada caranya sebenarnya, kita diharuskan untuk membaca dari bab I terlebih dahulu kemudian mengimplementasikan pada keadaan di “lapangan”, baru kemudian dapat melanjutkan ke bab selanjutnya, dan begitu seterusnya dalam setiap babnya. Tapi penasaran dunk yaaa😀, baca bukunya saja sampai habis sambil diimplementasikan, hasilnya adalah BINGUNG!! PUSING!!😀 so saya berencana untuk membaca dan mengulangnya lagi, lagi, dan lagi..

Setelah membaca beberapa halaman, kemudian diimplementasikan di “lapangan”, reaksinya ada yang sesuai ada juga yang di luar harapan sama sekali😀

Mengatasi Perasaan

Dalam buku ini ditekankan untuk “mendengar” perasaan mereka, anak-anak kita. Selama ini, dengan asumsi mereka harus menjadi anak yang tegar, kuat, dsb, saya selalu berusaha untuk “menghilangkan” apa yang mereka rasakan.

Nadia : Mi, aku jatuh, sakit..

Ummi : Gpp sayang, ga’ sakit koq, ayo bangun lagi..

Nadia : sakit ummi, sakit bgt..(menangis)

Ummi : ga sayang, ga sakit..udah dunk jangan nangis..

Dan dengan sukses ia akan menangis dan saya-pun menjadi marah😀

Namun, kemarin dengan pendekatan “mendengar” perasaan mereka hal yang bagi saya ‘ajaib’ terjadi..

Nadia : Ummmii, aku jatuh dari sepeda, sakitttt..

Ummi : duuuuhhh rasanya sakit sekali yaaaaaa Na, jatuh dari sepeda seperti itu..

Nadia : iyaaa, Mi, aku menahan dengan tanganku, dan paha-ku juga kena sepeda yang jatuh miring ini..

Ummi : ooo..

Nadia : tapi gpp koq Mi, ga’ sakit-sakit bgt, sekarang aku mau main lagi..

See the different, rasanya saya seperti terlepas dari segala bentuk yang namanya untuk menyenangkan mereka yang sebenarnya bukan itu yang mereka rasakan. Saya seperti tidak harus lagi berpura-pura jika segalanya baik-baik saja, everything oK, namun sebenarnya semua itu hanya buatan saya saja…

Hasan : akuuu ga’ mau berenang di situ, aku takut dengan ember tumpah..

Ummi : (biasanya saya akan berkata, gpp sayang, ember tumpah aja koq masa takut siyyy, anak ummi kan berani) (tapi setelah membaca buku ini) Hasan takut sekali yaaa, suara ember tumpah itu gede sekali yaaa, cipratannya juga deras jika terkena kita..

Hasan : aku juga ga’ mau main perosotan ituuuu, takuuuutttt…

Ummi : ok gpp jika Hasan mau main disini saja, karena takuuutt padahal waktu Hasan segede Husain dan berenang di sini Hasan senang sekali lho, Hasan Ummi gendong di bawah ember tumpah itu..Hasan ketawa-ketawa gitu deh seperti dek Husain saat ini..yud gpp yaaa abang main di sini dulu, ummi mau ke Kakak dan Husain dulu..(sambil pergi saya membisikkan “takut, pergi dari Hasan yaaa, Hasan ingin berenang-renang di sini..)

Hasan : iyaaa Mi…barangkali kalau aku makan dulu takutnya akan pergi..

Lalu kami makan, dan Hasan pun tak takut lagi semuanya..

Hasan : takutnya udah ga’ ada Mi..barangkali karena aku makan yaaa…

Cara seperti ini kelihatannya mudah, namun bagi saya ini sangat diperlukan kreatifitas dan kesabaran cukup tinggi😀..cara lama saya mungkin bisa dibilang instans, biar cepet, beres, dan selesai dan tentu saja cara ini adalah cara kuasa sebagai orang tua..kamu anak ikut orang tua saja, ga’ usah banyak macem, percaya saja..:D

Menjalin Kerja Sama

Dalam buku ini ditekankan untuk menjabarkan segala sesuatunya, apa yang kita lihat atau apa yang menjadi masalahnya. Dalam metode ini, dibolehkan untuk kita menuliskan pesan yang ingin kita sampaikan. Mengungkapkan apa yang kita rasakan daripada memarahinya untuk sesuatu yang tidak perlu.

Hari ini saya mencoba dengan metode menuli pesan untuk Nadia, karena dia sudah bisa membaca. Setelah pulang sekolah, dia meletakkan barang-barangnya (tas, sepatu, helm) tidak pada tempatnya. Rasanya ‘lelah’ sekali mengingatkannya terus menerus, padahal sang adik-Hasan-kelas TK-A setelah pulang sekolah selalu meletakkan barang-barangnya tanpa saya minta. Saya pernah menanyakan ini pada sang kakak..

“Ummmiiii, aku kan capek Mi, sekolah..masa aku harus naro’-naro’ itu juga…Abang mah pulangnya cepet jam 11, aku jam 2..”

*sigh* daleeeeemmmmm, menurut penalaran, iya juga siyyyy, mang apa salahnya siy saya yang meletakkan semua itu untuknya. Tapi dalam buku ini-pun kita sebagai orang tua harus dapat menjadikan anak-anak kita pribadi yang mandiri. Tidak ada kata terlalu muda atau terlalu tua untuk memulai semua metode ini.

Sehingga saya mencoba untuk menuliskan pesan untuknya.

Assalamu’alaykum Nadia sayang,

Sekolah seharian membuatmu senang juga melelahkan kan yaaa..walaupun kamu merasakan itu, kamu akan meletakkan sepatu pada tempatnya dan tas pada tempatnya. Terima kasih, cinta.

Salam Sayang

Ummi

Dan tahu apa yang terjadi setelah ia pulang sekolah dan membaca pesan saya, ia merobek dan membuang pesan saya, meninggalkan semua barang-barangnya di luar agar di ambil tukang sampah. *sigh* Saya kesal, marah, campur aduk, apa yang salah dari semua ini, kata-kata saya dalam pesan-kah?! Suami yang sedang pulang cepat dan mengetahui peristiwa ini hanya senyum-senyum saja (dalam pandangan saya, dia sedang menertawai saya dengan metode baru yang saya dapat dari buku..huh*kibasjilbab*) namun, saya simpan semua dalam hati, saya merenung apa yang salah.

Akhirnya, saya pun pada kesimpulan..ya iyaaaaa lah siapa yang ga’ BT coba yaaaa pulang sekolah cape’ cape’ baca surat kaya gini dari ummi..huh *ummiga’berperasaan*😀 akhirnya saya pun meminta maaf padanya, mencoba jabarkan apa yang saya pikirkan adalah perasaan yang ia rasakan. Reaksinya, diam saja. Dan saya belajar dari semua pengalaman ini..😀 *jangankirimsuratkeorangyanglagicape’*

Perjalanan ini masih panjang, bagi saya ini adalah fase ‘awal’ setelah fase ‘bayi’ mereka. Mereka bukan bayi lagi yang mana komunikasi cukup pada kita saja. Dan sekarang komunikasi adalah saya dan dia, kami dan mereka. Yang dibutuhkan adalah kesabaran tiada batas *notebesaruntuksayasebenarnya*😀

Saya mungkin bukan ibu yang sempurna, tapi saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, anak-anak saya, titipanNya. Love them much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s