Writing Is Talking..

Pernah merasakan keringat dingin ketika harus berbicara dimuka orang banyak. Atau deg-deg-an setengah mati jika harus mengungkapkan isi hati lewat lisan. Yes, I feel all that situation.

Suatu hari, ketika saya masih kuliah, dan saya sebagai ketua bidang pada suatu himpunan jurusan. Saya dituntut untuk dapat berbicara pada tiap kesempatan, pada tiap rapat himpunan ataupun rapat anggota. Dan apa yang terjadi, saya pernah mengalami yang namanya ditertawakan oleh semua orang dalam satu ruangan rapat tersebut😀 . ntah apa yang membuat mereka tertawa ketika saya berbicara, yang jelas saya menanggapi kejadian itu dengan berbagai rasa. Makin merasa, I Cant Talk, Please Jangan Suruh Gue Buat Ngomong Lagi..Kapan Semua Ini Berakhir😀 ..ecuma saya harus mlalui ini selama 1 periode kepengurusan..lelah?! tidak, just enjoy that situation, ketika orang tertawa saat saya bicara😀..

Gugup-keringat dingin itu tidak terjadi sekali-dua kali tapi setiap saat. Meski menjadi MC(pembawa acara) pada temu pekanan-pun bisa membuat saya keringat dingin. Atau ketika saya harus berbicara dengan orang lain-pun kadang begitu sulit. Saya lebih suka memilih untuk diam. Yes, saya bukan type orang yang cepat mudah bergaul ataupun sebagai pembuka pembicaraan, karenanya teman saya sangat terbatas  but im so happy with that. Tiap orang kan beda-beda, jadi syukuri aja..

Untuk mencurahkan isi hati, biasanya saya melalui tulisan. Gagasan, opini, argument, omelan, dan lain sebagainya saya tulis. Meski itu dengan suami sekalipun, saya lebih suka membicarakannya lewat tulisan. Ribet?! Of course karena suami baru membacanya setelah beberapa lama kemudian😀 ..Orang-orang terdekat saya, pasti sudah pernah mendapatkan “surat” dari saya. Papa, Mama, Adik, Sahabat.

Saya tipe orang yang suka akan kenangan, jejak. Sehingga bagi saya melalui tulisan kita dapat meninggalkan jejak tersebut. Dibandingkan dengan berbicara yang akan “hilang” begitu saja tanpa jejak, kecuali jika otak dapat merekamnya secara detail. Tapi untuk saya menulis sangat efektif. Saya seakan bisa “melihat” kembali suatu kejadian dari sebuah tulisan yang saya buat. Merasakan kembali apa yang saya rasakan saat itu. Saya-pun berharap kelak, suatu saat, ketika anak-anak saya sudah besar, mereka bisa lebih mengenal ibunya melalui tulisan-tulisan yang saya tinggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s