Nadia dan Cermin

Sebenarnya tulisan ini adalah curahan hati seorang ibu yang anak perempuannya makin beranjak dewasa πŸ™‚ . Dan ia rasanya belum siap untuk menghadapi kenyataan ini *lebay*..

Nadia, umurnya 5tahun 9bulan, bulan ini. Desember nanti umurnya genap 6th. Masih kecil, namun dengan kondisinya yang memiliki adik laki-laki 2 orang, dia sangat dituntut untuk menjadi contoh terbaik. Sehingga, rasanya dia sudah sangat”dewasa” πŸ™‚

Cermin ini tadinya diletakkan di kamar mandi. Namun, akhir-akhir ini anak perempuan pertama-ku ini, selalu minta bolak-balik untuk diambilkan cermin dari kamar mandi -cermin dirumah kami hanya 1 ini saja- . Dan terakhir, dengan ide inisiatifnya

“Bi, cerminnya jangan taro’ di kamar mandi yaaa. Aku pindahin yaaa”

dan jadilah cermin itu digantungkan di kamar kami di dekat jendela. Ternyata disana ada paku sisa orang kontrakan sebelumnnya yang masih menempel di dinding. Whoooaaaa tidak!! dia sudah mulai rajin bercermin *emakgarela*

Rasanya, aku harus mulai terbiasa. Selain cermin, ada hal yang sangat not me!!bgt. Pernah merasakan, jika anak-mu sangat bukan diri-mu bgt. Dan ini-lah yang terjadi pada-ku dan Nadia, my first daughter. Aku punya alergi, pada debu, air dsb. Pokoknya klo alergi ini lagi kumat bisa bikin pilek yang ga’ jelas dan pencetusnya dari segala sesuatu yang kusebutkan di atas tadi.

Bedak!! Sedari bayi, anak-anak-ku tidak ada yang aku pakaikan bedak *teserah orang mo bilang apa* but that’s true. Setiap ada yang memakaikan bedak pada anak-ku, pasti langsung aku lap lagi. Bukan apa-apa, pencetus alergi-ku termasuk bedak. Jadi, aku benar-benar menjauhkan anak-anakku dari bedak agar alergi-ku tidak kambuh.

Etapi!! Seiring berjalannya waktu dan beranjak “dewasa”nya Nadia, kini ia-pun memakai bedak pada wajahnya. Whatttt!!Na, sedari kecil kau kujauhkan dari bedak, mengapa kini kau mengenalnya-emakgarela- Salah satu hal yang sangat not me!!bgtπŸ™‚ . Ecuma,yang alergi kan gw yaaa bukan dia *emakgabolehmaksa*

Eakhirnya, setiap anak memang punya jalannya sendiri-sendiri. Kesukaannya masing-masing. Yang mungkin atau memang bukan diri-mu bgt. *kaya gw ma nyokap aja gitu πŸ™‚*Mereka ga’ mungkin kita “paksa” untuk hidup di zaman kita, namun kita yang memiliki zaman yang berbeda dengan mereka dapat hidup di zaman mereka sekarang.

Dan rasanya aku memang harus mulai melihat kenyataan jika kelak anak-anak-ku akan beranjak dewasa. Menjadi orangtua yang siap untuk melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang sesuai usia dan zamannya. Bukan menjadi orangtua yang banyakan *garela*-nya anaknya berubah *gwbgttuh*. Selama itu ke arah yang lebih baik, sebaiknya sebagai orangtua memberikan dukungan padanya. Dan jika ke arah yang tidak baik, tugas kita sebagai orangtua untuk mengingatkannya. *ngomongmadirisendiri*

Semoga anak-anak kita dapat menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah serta menjadi penyejuk mata dan hati .Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s