Just Misz Our SANI..

    Ops, mohon maaf sebelumnya, saya baru meng-updet blog ini lagi.

Dan kali ini saya sedang tidak berpromosi, secara menurut kabar terbaru, SANI sekarang sudah Mahal..?!?

    Sudahlah, saya sedang tak ingin membahas itu, saya sedang ingin membicarakan isi hati saya yang terdalam. Sebagai seorang ibu yang sangat menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.

    Memang sudah dua bulan lebih ini, Nadia tidak masuk sekolah lagi, dikarenakan harus mengikuti Ummi dan Abi nya berkelana mengelilingi dunia ini. That’s sound beautiful, right?

    Dan sudah seminggu ini, tiba-tiba Nadia..

    “Abiiiiii, sini deh…”

    “knapa Na..?” Tanya Abi

    “Nadia kangen mau sekolah, mau belajar, tapi di Sekolah Alam Natur Islam yaaa..” jawabnya

    Dan Abi pun tersenyum kecut, dan melaporkan hal ini pada saya. Tak kuasa, berkaca juga mata ini.

    Apa kami, terutama saya sudah keras padanya. Secara memaksanya mengikuti jalannya kami. Jalan yang terpaksa kami tempuh untuk segala permasalahan yang terjadi. Ntahlah, tapi bukankah setiap manusia punya cara masing-masing untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Dan sebagai seorang anak yang masih dibawah umur, dia adalah tanggung jawab kami. Dimana tanggung jawab akan semua kebutuhannya adalah ditangan kami. Semoga kelak kamu mengerti Na..

    Dan saya pun teringat, begitu kerasnya saya padanya. Marah ketika dia BAB di celana, secara menurut saya seharusnya hal itu tidak dilakukannya lagi, mengingat dia sudah sangat bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Marah ketika dia mengompol saat tidur, padahal saya sudah mengingatnya, mengajaknya untuk pipis dahulu sebelum tidur, atau sengaja saya bangunkan untuk pipis dahulu-meski banyak ga’ maunya juga J-. Marah ketika dia begitu rewel..

    Upsssss saya memang sudah keras padanya. Berharap banyak padanya. Padahal anak seumurnya, apa siiihh keinginannya. Secara saya juga belum memberikan yang terbaik untuknya meski saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untukknya, menginginkan yang terbaik untuknya meski mungkin apa yang saya inginkan tidak selalu berjalan sama dengan keinginannya. Begitu pula dengan keinginan sekolahnya. Ufhhh Na, maafin Ummi yaaaa..

    Dan saya pun segera mencari tempat untuk menyalurkan keinginannya. Berkeliling kesana-kemari, dan hasilnya NOL. Saya belum menemukan yang seperti SANI ataupun mendekatinya. Dalam hal apapun.

    Dari masalah tempat, begitu sempit dan crowded, saya bingung, nanti si Neng- Nadia- mau lari-lari dimana. Belum lagi pas saya datang ke suatu tempat, sang guru lagi teriak-teriak ngingetin anak jangan main-main di belakan ayunan dengan temperamen tinggi. Duh, bisa gawat anak gw, secara yang boleh teriak-teriak marahin Nadia cuma Umminya gitu loh J. Belum lagi masalah jumlah murid dalam satu kelas dengan jumlah gurunya. Satu guru untuk 30 anak. Wadowwwww, anakku ada di prioritas yang mana, gimana klo si Neng BAB, tahu ga’ sang guru?! Bukan hanya itu, tingkat pendidikan setiap anak kan berbeda-beda, klo disamaratakan dengan 30 anak itu duh ga’ kebayang deh. Dan lunglailah diriku.

    “Mi, ga’ akan dua SANI.” kata suami saya ketika melihat saya begitu galau

    Tiba-tiba saya pun ikut merindukan SANI. Tempat yang cukup luas, secara namanya sekolah alam gitu loh. Setidaknya ada tempat untuk Nadia berlari kesana kemari. Guru-guru yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran. Perbandingan guru dan murid yang seimbang. Dulu di playgroupnya SANI pertama kali masuk ada 7 orang dimana hanya Nadia seorang perempuannya. Perbandingannya 4 orang murid adalah 1 guru, karena ada 7 orang murid maka guru di playgroup ada 2. Ibu Endah dan Bapak Rangga. Setidaknya dengan begitu Nadia, anak saya mendapatkan perhatian penuh, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti bagi saya. Dan yang terpenting adalah mengenakan pakaian tertutup untuk anak perempuan sangat diwajibkan sehingga Nadia meski masih playgroup diharuskan memakai jilbab pula dan ini yang belum saya temui di sekolah yang cari kemarin meski namanya sekolah islam.

    Opssss lagi, apa saya sudah menggantungkan anak saya pada sekolah khususnya SANI dalam pendidikan anak saya. Bukankah tugas seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya. bukankah ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya. Dan saya menjawab, saya tidak menggantungkan anak saya pada sekolah, namun apa saya salah jika saya butuh partner dalam mendidik anak-anak saya. Karenanya saya mencari partner terbaik untuk anak-anak saya. Saya sangat concern dalam hal ini, setidaknya partner yang sejalan dengan apa yang saya inginkan untuk anak-anak saya. Sehingga sangat wajar, klo saya sedikit cerewet untuk masalah pencarian partner ini.

    Akhirnya saya pun berpikir tentang homeschooling, meski ini bukan untuk yang pertama kalinya saya menginginkan Nadia untuk belajar dirumah saja bersama saya. Tapi kembali lagi ke jiwa setiap anak yang pada dasarnya selalu ingin bermain, bersosialisasi. Yang tentunya mungkin tidak bisa dia dapatkan jika dia belajar di rumah bersama saya. Mungkin bukannya tidak tapi belum. Mengingat sebagai seorang ibu tanpa asisten, juga harus menjadi seorang guru yang bernama Bu Putri J. Saya belum bisa membagi waktu saya sebagaimana mestinya. Saya masih bingung untuk melakukan semuanya dengan cantik -bisa tolong bantu saya- Karena saya makin merasakan betapa indahnya menjadi ibu.

    “Na, belajarnya sama Bu Putri aja yaaa.” Tanya saya.

    “Iya, Bu Putri. Tapi teman-temannya Nadia mana Bu Putri..” jawabnya.

    Dan saya pun tergagap harus menjawab apa..

    “Mi, ini helm kya Nadia klo mau naik kuda di Natur Islam, Mi.” ceritanya mengalir begitu melihat sebuah helm yang mungkin mirip dengan helm di sekolahnya.

    “Biar ga’ kepanasan Mi, kata Bu Endah. Klo udah naik kudanya, Nadia boleh main bola sama teman-teman.” Lanjutnya.

    “bla..bla..” lanjutnya yang saya tak lagi mendengarnya.

    Karena saya pun menerawang jauh.

Na, ummi bukan tak merasakan rindu yang kamu punya karena ummi pun merasakan apa yang kamu rasakan. Dan ummi pun merasakan hal sama pula. Dan Alloh mengetahui segala apa yang kita rasa. Semoga Alloh selalu memberikan yang terbaik untuk kita. karena Alloh selalu punya rencana indah untuk kita. sabar yaaa Sayang.

    
 

    

    

One thought on “Just Misz Our SANI..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s