Sebutir Nasi…

Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga seperti biasa berkunjung ke rumah Emak, dalam setiap kunjungan dapat dipastikan, Insya Alloh, ada sesuatu yang baru kudapat di sana, Subhanallah..

Kali ini, tentang sebutir nasi..ketika suami sedang menikmati makannya, tiba-tiba Emak berkata “..dihabiskan nasinya, satu butir nasi, bisa buat makan setan selama 40 hari..”,ntah darimana dalilnya, tapi yang jelas mengandung sarat makna didalamnya..saya jadi teringat film Unyil ketika saya masih kecil dulu, dalam salah satu episodenya, ada sebutir nasi yang
menangis karena ia tidak dimakan oleh salah satu pemain di film tersebut, sejak saat itu sampai sekarang, saya selalu berusaha untuk memakan semua nasi yang saya ambil ketika makan..bersih..yang tercecer pun saya usahakan dimakan juga, karena saya selalu membayangkan sebutir nasi yang menangis itu..

Saya jadi berpikir, seandainya apa yang dikatakan Emak benar adanya, bagaimana tidak setan akan tumbuh dan berkembang begitu pesatnya, jika”hanya”dengan sebutir nasi dia dapat bertahan selama 40 hari, sedangkan kita lihat ditempat sampah setiap rumah, setiap restoran, dimana-mana pasti ada saja nasi yang tercecer atau terbuang begitu saja, bayangkan jika ada 1 butir nasi tiap harinya yang terbuang, dalam sebulan saja ada 30 butir dikalikan 40 hari, berarti setan mendapat”jatah”makan sebanyak 1200 hari yang berarti 40 bulan yang sama dengan kurang lebih 3,5 tahun, itu baru satu butir nasi saja..kenyataannya, begitu banyak butir nasi yang tercecer atau terbuang disekitar kita setiap harinya..

Lepas dari semua itu, yang jelas ada sedih yang menjalar di dalam diri saya, ironis saja, ketika saya lihat di berita-berita, saat ini Nusantara sedang berduka, begitu banyak saudara-saudari kita, anak-anak penerus generasi ini, terkena berbagai macam penyakit, salah satunya busung lapar atau kekurangan gizi, sulit mencari makan kata orang tua-orang tuanya, sedangkan kalau
kita lihat di sisi lainnya lagi begitu banyak kemewahan-kemewahan yang berdiri angkuh tanpa peduli sekitarnya..

Ada sedih yang menjalar di dalam diri saya, ironis saja, ketika saudara-saudari kita, anak-anak penerus generasi ini, membutuhkan makanan, setan dengan mudah mendapatkan”jatah”makanannya, tanpa perlu usaha, tanpa perlu meneteskan keringat,
tanpa perlu melihat”bangsa”nya berduka karena kekurangan makanan atau terkena penyakit busung lapar, karena begitu banyak butir nasi yang tercecer atau terbuang disekitar kita setiap harinya, baik disengaja ataupun tidak..

Ada tekad dalam diri, agar setan tak lagi tumbuh dan berkembang begitu pesatnya, tentunya ini semua dimulai dari keluarga kami, dan juga keluarga anda tentunya..sejak dini akan kutanamkan pada jiwa-jiwa anak-anakku, begitu juga dengan anda pada anak-anak anda, agar selalu menghabiskan makanan mereka..bersih..maka ambillah makanan secukupnya, dan beri contoh pada mereka, jika kami dan anda selalu”bersih”kalau makan..Insya Alloh, lambat laun”bangsa”setan akan mengalami yang namanya kekurangan makanan atau terkena penyakit busung lapar, hingga tiada kekuatan baginya untuk mengganggu kita dengan segala godaannya, dan Nusantara kembali tersenyum jauh dari duka..

3 thoughts on “Sebutir Nasi…

  1. Agusti Anwar says:

    Yang dikatakan Emak itu jelas sekedar amsal—waktu kecil (alm) ibu saya juga suka mengatakan hal yang senada. Memang kebiasaan piring bersih perlu kita tanamkan pada anak-anak, walau tidak mudah. Di beberapa daerah bahkan itu kebanggaan menyisakan makanan di piring agar terkesan tidak ‘kelaparan’. Betapa memang periode kesulitan hidup bangsa kita di masa-masa terjajah dulu dan seterusnya menjadi sebentuk budaya yang aneh. Ketika Nabi pun pernah disebut sampai menjilat jarinya, kita biasa menyia-nyiakan makanan begitu saja. Saya dukung kampanye ‘piring bersih’nya itu dan barangkali malah bisa lebih diperluas…. salam, Anwar.

  2. QZoners says:

    Setuju !! Tapi masalahnya ada hadist yang mengatakan agar tidak berlebih-lebihan. Dan ada juga yang mengatakan agar makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang. jadi bingung deh…

  3. ARS CooL says:

    Huahaha…iya bener banget tuh! Saya ampe sekarang juga masih inget itu episode Unyil! Dan sepertinya itu juga yang men’doktrin’ saya sehingga -insya Alloh- hampir ga pernah menyisakan sebutir nasi pun setiap kali makan!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s