n’ the story goes…

mmhh hampir 3 minggu lebih saya tidak bersentuhan dengan dunia maya–khususnya Blog saya ini–..
rindu itu ada, dan sepertinya saya sudah kecanduan dengan dunia ini..

setidaknya ada beberapa kejadian yang hendak saya ceritakan dalam “rangkuman” tulisan ini..

minggu pertama..Innalillahi, laptop kami hilang..disana tersimpan semua data penting yang belum sempat kami buat back-up nya..Insya Alloh, laptop bisa dibeli lagi tapi berbagai macam data hendak dicari kemana, teringat suami yang dengan sifat perfeksionisnya mengerjakan, mengedit berbagai macam data-data penting, rasanya koq sedih banget yaaa..tapi bukankah dalam setiap kejadian ada makna indah didalamnya, dan sebagai seorang muslim kita harus bisa bersabar dengan segala ketentuanNya..

bagi saya, kejadian ini merupakan teguran dariNya..menurut saya, Alloh cemburu dengan laptop ini, hingga DIA yang Maha Punya SegalaNya, mengambil laptop ini..mungkin karena laptop ini, membuat kami agak lalai kepadaNya, yang jelas menurut saya, Alloh itu Maha Baik, DIA akan selalu menggantikannya dengan yang lebih baik lagi, dan semoga diri kami pun menjadi lebih baik lagi..

minggu kedua..Alhamdulillah, proyek baru suami sudah mulai, hingga kami bisa membeli laptop baru, tapi disinilah jeleknya saya, sulit untuk membangkitkan semangat menulis, masih terbayang dengan berbagai data kami yang hilang, meski saya sudah memotivasi diri saya..bukankah Alloh melebihkan manusia di antara makhlukNya yang lain, dengan akal dan pikiran kita, seharusnya dengan hilangnya berbagai data itu tidak membuat kita patah semangat, bukankah kita membuatnya dengan pikiran kita, dan itu tersimpan dalam memori kita, harusnya malah kita bisa membuatnya lebih baik lagi..

bagi saya, ini merupakan tantangan besar bagi saya untuk mencoba menulis lagi–sayang ne Blog, dianggurin mulu…–meski begitu, saya belum mendapatkan moment yang pas untuk memulai, ditambah dengan kesibukan proyek baru, dimana saya harus membantu suami dalam hal keuangan proyek tersebut, jadilah saya begitu merasa jauh dengan dunia tulis menulis ini..

minggu ketiga..Innalillahi, Nadia sakit panas, kejadian beberapa waktu lalu masih ingat terbayang dalam diri saya, saya tidak ingin hal itu terulang lagi, panas kali ini cukup lama, hampir 4 hari, dimana panasnya turun setelah dikasih obat penurun panas, tapi tidak lama kemudian panas kembali, hingga panasnya naik dan turun..pada hari ke-4, akhirnya saya dan suami membawa buah hati kami ke dokter, dan dokter memutuskan untuk tes darah lengkap, dimana baru dapat diambil hasilnya pada hari berikutnya..

dari hasil tes darah lengkap itu didapatkan hasil yang sangat mengejutkan bagi saya, LED (Westergen) dan limfositnya cukup tinggi, yang membuat dokter meminta saya untuk memeriksakan ke bagian radiologi, dan dari hasil rontgen tersebut dikesankan “Tb di paru kanan”..dan setelah diberikan ke dokter, sang dokter pun mengatakan ada TBC di paru-paru kanan Nadia..penyebabnya tertular TBC orang dewasa..hingga sang dokter pun memberikan obat yang harus Nadia minum setiap hari selama 6 bulan tanpa henti ataupun terlewatkan, jika terlewat maka harus reset lagi..sedihnya perasaan saya saat itu, apalagi saat itu suami sedang tidak mendampingi seperti biasanya..

sesaat saya tidak tahu harus berbuat apa, yang saya lakukan saat itu hanya menuruti perkataan dokter saja, tapi dengan berbagai pertanyaan di benak saya, apa mungkin Nadia bisa menderita TBC, sedangkan tidak ada penderita TBC di keluarga kami..didapat dari manakah..?!?

kemudian saya teringat Mba Lita, saya mencoba menghubunginya dengan SMS, bercerita tentang keadaan Nadia..darinya didapat berbagai informasi tentang TBC, begitu pula halnya yang dilakukan my sister Fen” dengan mengirimkan artikel tentang TBC, dan Mba Delis dengan menu sehatnya untuk penderita TBC..ternyata ada satu test yang terlewatkan, yang sebenarnya menandakan apakah seorang anak menderita TBC atau tidak, bukan hanya dari tes darah lengkap dan rontgen saja, yaitu test Mantoux..

minggu keempat..Alhamdulillah, dengan waktu yang sangat terbatas, saya dan suami menyempatkan diri untuk memeriksakan Nadia ke dokter spesialis bagian paru untuk segera melakukan test Mantoux pada Nadia, meski sang dokter pun sudah mengatakan bahwa ini bukan TBC, –setelah saya memberikan hasil tes darah dan rontgennya–, ini hanya pneumia kanan yang bisa terjadi karena anak batuk atau pilek hingga turun ke paru, tapi untuk lebih meyakinkan saya dan suami, sang dokter tidak keberatan jika Nadia tetap di test Mantoux dan beliau sangat yakin jika hasilnya akan negatif, dan setelah melewati masa 48 jam, Alhamdulillah ternyata hasilnya memang negatif, tidak ada reaksi apa-apa pada tangan Nadia yang telah disuntikkan sesuatu itu..

di sisi lain saya pun berpikir, ada apa dengan dokter anak kami..?!?saya masih ingat ketika Nadia harus dirawat di Rumah Sakit sehabis kejang beberapa waktu yang lalu dikarenakan diare, mungkin seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan toch selama dirawatpun Nadia tetap “berkeliling” ke setiap kamar, meski tangannya diinfus..

tapi setidaknya dari semua ini, saya dan suami dapat mengambil pelajaran dan pengalaman di dalamnya–maklum anak pertama–jadi kami serba “panik” klo terjadi sesuatu dengan Nadia..mudah-mudahan untuk anak kedua kami, kami lebih lihai dalam melihat dan memutuskan sesuatunya..dan sebagai orangtua dimana Alloh telah mengamanahkan makhlukNya pada kita untuk dirawat dan dididik dengan penuh kasih sayang dan cinta tentu ingin selalu memberikan yang terbaik, meski hanya Alloh Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya..

6 thoughts on “n’ the story goes…

  1. Lita says:

    ada apa dengan dokter anak kami..?!?
    Tidak semua dokter sempurna. Sayangnya, dokter yang seperti itu tidak sedikit juga jumlahnya. Menemukan dokter yang menerapkan RUD (Rational Use of Drugs) bukan hal yang mudah, tapi berusaha berpartner dengan dokter yang sempurna juga tidak mustahil.

    Jadi sampai saat ini, yang paling memadai adalah berusaha terus belajar tentang kesehatan, perawatan, dan penanganan ‘darurat’. Pasien yang ‘pintar’ akan meminimalkan praktik polifarmasi dan pemberian perawatan/obat yang sebenarnya kurang tepat.

    Nadia yang masih bisa ‘kelilingan’ juga sepertinya tidak dehidrasi sehingga harus diinfus, karena anak yang dehidrasi akan lemas luar biasa😀

    Pelajaran berharga untuk lain kali ya, mbak Ingga. Panik tidak membantu :p
    Untunglah benar bukan tuberkulin dan mbak mencari opini kedua sebelum memutuskan meneruskan pengobatan🙂

    Maaf, saya tidak membantu dengan artikel TB dan resepnya😦 Beribu maaf hiks hiks…

  2. Lita says:

    eeehhhh… maksudnya, berpartner dengan dokter yang tidak sempurna :p
    DSA langganan Daud juga tidak ‘sempurna’, beliau masih meresepkan obat seabrek hanya untuk radang tenggorokan.
    Tapi sepertinya terhadap pasien yang agak ‘mengerti’, beliau bersedia bekerjasama dan berdiskusi.
    Alhamdulillah kami bisa ‘berdansa’ dengan baik hingga saat ini.

  3. ingga says:

    To..

    Mba Lita..GPP, JKK buat infonya..jujur aja berguna bgt lho..

    azfa..amiin..Alhamdulillah Nadia sudah sehat kembali..JKK do’anya..

    ARS..amiin..Insya Alloh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s