Adik Laki-lakiku

Publikasi: 15/06/2005 13:03 WIB

eramuslim – Ada kegelisahan yang selalu muncul dalam diri saya setiap kali suami tercinta dengan bangganya menceritakan kakak perempuan pertamanya, terutama tentang kebaikan-kebaikan yang beliau berikan untuk keluarganya dari dulu hingga sekarang. Dan sekarang keluarga kami pun ikut merasakan kebaikannya. Namun, ada yang mengganjal dalam diri saya, yang pasti itu bukan iri atau benci, hanya bentuk keinginan yaitu ingin rasanya saya sebaik beliau.
Sewaktu saya SMP, Mama mengabarkan bahwa saya akan memiliki adik laki-laki. Betapa bahagianya Papa dan Mama saat itu, tapi tidak bagi saya dan adik perempuan saya, pikiran kami saat itu betapa terganggunya memiliki adik lagi di usia kami yang sudah 14 dan 13 tahun saat itu, setelah sekian lama kami hidup berdua sebagai kakak-adik yang kompak, tiba-tiba kami harus berbagi dengan adik baru kami.
Saya sendiri tidak terlalu memikirkan punya adik lagi atau tidak, karena saya pun sudah memiliki adik perempuan yang selalu saya jaga, namun tidak untuk adik perempuan saya, hingga sampai saat ini tidak heran jika adik perempuan dan adik laki-laki saya suka “berantem” tapi itulah ungkapan cinta-kasih mereka, malah menurut saya, sekarang mereka adalah pasangan yang kompak.
Waktu terus berlanjut, saya SMA dan kuliah di Bandung, tidak terlalu melihat berkembangan adik laki-laki saya yang saat ini sudah 10 tahun. Sekarang saya sudah menikah dan memiliki anak, 6 bulan, saya merasa adik laki-laki saya begitu jauh dengan saya, dia hanya berbicara seperlunya dengan saya, apalagi setelah saya menikah, meminta pun ia tidak pernah. Terhadap adik perempuan saya, sikapnya sangat berbeda mereka bisa berbicara kapanpun, tentang apapun, terkadang dia meminta sesuatu kepada adik perempuan saya. Di hati kecil saya meng inginkan agar dia bisa seperti itu pada saya. Saya sempat berpikir mungkin karena sifat saya yang pendiam dan kurangnya perhatian saya trehadap pertumbuhan serta perkembangannya, menimbulkan jarak antara saya dengannya.
Ada sedih yang menjalar saat ingat adik begitu jauh dengan saya, ada gelisah ketika sang suami dengan bangganya menceritakan kakak perempuan pertamanya. Setelah saya selidik ternyata, perbedaan umur antara suami saya dengan kakak perempuan pertamanya sangat jauh yaitu 14 tahun, itu artinya sama antara saya dengan adik laki-laki saya.
Dari sisi hati yang paling dalam bertanya, akankah 14 tahun mendatang adik laki-laki saya, dapat mengungkapkan isi hatinya kalau dia bangga dengan kakak perempuan pertamanya, yaitu saya.

Ummu Nadia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s