Be a cool Mom itu ga mudah banget..ya kan, ya kan *setidaknya itu yang saya rasakan* ![]()
Dalam seminar “PD Bicara Seksualitas Pada Anak” kemarin, Bu Elly bertanya pada peserta seminar. Singkatnya yaa
“jika anda melihat anak anda sedang bermain dokter-dokteran dengan temannya (lawan jenis). Anak kita adalah dokternya dan temannya adalah pasiennya. Si dokter mau memeriksa suhu badan menggunakan thermometer yang di letakkan di pantat. Kemudian dokter yang mana anak anda, membuka celana pasiennya yang mana adalah teman lawan jenisnya. Apa yang akan anda lakukan?”
Reaksi peserta beragam. Paling banyak yaa si anak langsung diingatkan jika itu tidak baik, tidak boleh, dsb dst.
Daan ternyata, menurut Bu Elly, reaksi seperti itu adalah reaksi yang tidak benar. Reaksi tersebut dapat memutuskan atau mematikan imajinasi anak, yang akan mengakibatkan anak tidak berkembang semestinya. So apa dunk yang harus dilakukan, menurut Bu Elly..
“kita harus masuk ke dalam imajinasinya. Ini ceritanya lagi apa, lagi main dokter-dokteran kan. Maka jadilah kita petugas UGD (ceritanya)..”panggilan untuk dokter Hasan (sebutkan nama anak) harap masuk ruang UGD (kamar kita ceritanya), panggilan dokter Hasan harap segera datang ke ruang UGD” diiringi dengan suara sirine seperti ambulance misalnya. Kemudian, anak akan masuk ke kamar (secara dia adalah dokter yang dipanggil untuk segera datang ke ruang UGD
) kemudian barulah kita jelaskan, jika anak sudah dibiasakan dengan ‘malu-untuk tidak menunjukkan kemaluannya pada siapapun’ tentu dia akan segera ‘mengerti’. Hal yang bersifat imajinatif tidak bisa dimatikan atau di terobos dengan kognitif.”
Daan seketika, saya tersadar betapa banyak reaksi saya yang mungkin sudah mematikan imajinasi mereka. Baik, nak, mari kita perbaiki *ngomong sama diri sendiri* ![]()
Untuk menghadapi ‘peristiwa-peristiwa’ tak terduga ini, kuncinya utama adalah tenang dan control diri. Jauh sebelum mengikuti seminar ini, ada peristiwa yang buat saya sebenernya ga tahu harus gimana, yang saya tahu saya harus ‘tenang’ dalam hal menjawab ataupun bereaksi akan apa yang anak-anak saya lakukan.
Saat itu, Hasan, anak kedua saya, tiba-tiba dia bertanya sambil menunjukkan jari tengahnya pada saya “ini apa Mi..”.
ok,karena saya ibu yang parno
maka yang ada dipikiran saya seketia itu adalah “duh, niy anak dapat darimana sik..” “jawab apaan niy..” rasanya saya pengen menghilang saja karena ga tau harus gimana *emakcemen*
“apa Mi..” katanya lagi
“mmhh apa yaaa..” ngeles saya ![]()
“ih masa Ummi ga tahu..ini jari tengah..” katanya sambil ketawa cengengesan
Dan seketika dinding beku yang saya buat sendiri mencair dan ikut tertawa bersamanya..”oia yaaa, jari tengah..”
“iya Mi, kan ada lagunya diajarin ibu guru..” lanjutnya lagi
Oohhh Nooo, be a cool mom it’s not easy kan.. ![]()
Jujur, sebenarnya saya ingin tahu apakah ada ‘istilah’ lainnya yang dia ketahui selain ‘jari tengah’ .Tapi sudah lah yaa, seperti ini aja dulu. *menenangkan diri*
Lain Hasan, lain pula Nadia, kakaknya. Hari ini sepulang sekolah
“Ummi, parah banget teman ku, masa dia nyanyi gini Mi..” katanya sambil membuat simbol-simbol dari tangannya yang berakhir dengan bentuk lingkaran dan jari telunjuk yang dimasukkan kedalamnya.
“hee, memang itu apa artinya Kak?” tanya saya *mencoba tenang*
“itu Mi..punyanya laki-laki-penis” jawabnya berbisik
“oow..kakak tau dari siapa..?” tanya saya lagi, masih berusaha tenang..yang di lanjut dengan ceritanya yang mengalir.
I know my daughter, if she knew bout something new, she will tell anybody.
Jadilah saya harus ‘mengikat’nya ketika dia akan mulai mau ‘menyebarkannya’ dengan ” Kakak, sudah tahu kan kalau itu tidak baik. Kakak juga sudah tahu jika kakak mencontohkan kebaikan, lalu kebaikan tsb diikuti orang, Kakak akan mendapat pahala. Begitu juga dengan keburukan, Kak. Jika Kakak, kasih tahu adik-adik Kakak atau teman-teman Kakak lainnya lalu mereka mengikuti Kakak, Kakak dapat juga keburukannya. Mengerti sayang..” ‘ikat’ saya. ‘mengikat’ disini maksudnya adalah ‘dikunci’ dengan agama. Dalam hal ini, mengembalikan semuanya pada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai pedoman hidup muslim.
“iyaa Mi..” ucapnya.
Woooshaah *peras keringet*
BTW, untuk apah, untuk apah ‘ke-cool-an’ ini harus terus berlangsung
.
Bagi saya ini semua untuk keberlangsungan komunikasi yang baik antara saya dan anak-anak selamanya. Saya cuma ingin, mereka bisa bicara mengalir bebas tanpa takut tekanan apapun pada saya. Saya ingin menjadi tempat tanya dan cerita mereka tanpa mereka harus khawatir akan reaksi saya yang tidak diinginkan. Kalau istilah Bu Elly sik Be Ask Able Parents ![]()
Berikut kiat-kiat menghadapi pertanyaan anak menurut Bu Elly :
-
Tenang dan control diri (relax)
-
Tarik nafas panjang dan take it easy
-
Cek pemahaman anak, seperti “yang kamu tahu apa?”
-
Apa yang anda rasakan? Katakan!
-
Jawab/tidak
Jika di jawab, maka :
-
Tangkap inti pertanyaan!!
-
Yang terbaik saat itu ditambah dengan norma agama
-
Kaitkan dengan seseorang yang dekat dan dikenal anak
-
Ingat : KISS ( Keep It Simple & Short)
-
Gunakan the golden opportunity
Jika tidak di jawab, maka : tunda dengan jujur, dan berjanji akan menjawabnya (tentukan waktu dan tepati)
Jadi, “yang kamu tahu apa?” ini penting ketika anak bertanya pada kita, untuk mengecek pemahaman anak dan juga agar tidak terjadi ‘salah paham’ dengan yang ditanya *seperti kasus saya di atas itu* ![]()
Menjadi orang tua zaman sekarang adalah berpacu dalam melodi teknologi, arus informasi, dsb yang sangat mudah didapatkan oleh anak. Kita bisa ‘mensterilkan’ anak dirumah, namun tidak ketika mereka berada diluar rumah. Seperti cerita Nadia tadi, didapatkannya dari teman sekelasnya, dimana teman sekelasnya mendapatkannya dari teman taekwondonya.
Sebagai ibu, rasanya sik pengen banget kekepin anak selamanya di dalam pelukan saya
. Cuma kan ga mungkiiiin :’(
Memohon pada sebaik-baikNya Maha Pelindung, semoga Alloh selalu melindungi anak-anak kita dari segala macam bahaya juga keburukkan. Aamiin.

